BULAN RAMADHAN, MOMENTUM PEMBENTUKAN KARAKTER

Artikel

Sebentar lagi, kita akan memasuki Bulan Suci Ramadhan 1441 H. Banyak sekali keistimewaan dibulan ini, antara lain yaitu dilipat gandakannya pahala amal-amal kebaikan, dan bulan yang penuh rahmat serta maghfiroh dari Allah SWT. Selain itu, di bulan istimewa ini pulalah momentum terbaik untuk membentuk karakter seorang anak. Ada begitu banyak aspek kehidupan yang dapat dilatih dan dikembangkan selama Bulan Suci Ramadhan. Salah satu manfaat yang didapatkan melalui ibadah puasa yaitu mengasah kepekaan hati, sehingga hati menjadi lebih lembut. Puasa adalah suatu aktifitas ibadah kepada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa sejak matahari terbit hingga tenggelam. Ibadah puasa mengajarkan seseorang untuk menahan keinginan diri. Misalnya yang biasa makan sehari tiga kali dengan menu makan yang lezat-lezat, saat Bulan Ramadhan belajar merasakan lapar, seperti halnya yang dirasakan oleh orang lain yang kekurangan status ekonominya.

Ternyata ibadah puasa memiliki banyak sekali manfaat bagi psikologis seseorang. Puasa merupakan momentum penuh makna, karena pada prosesnya puasa melatih seseorang untuk bersikap jujur.  Kejujuran inilah nilai kehidupan yang mulai terkikis di masa sekarang. Sehingga melalui puasa seseorang belajar untuk bersikap jujur, sebab puasa adalah ibadah yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri dengan Allah. Seseorang berlaku jujur dengan menahan lapar dan dahaga baik di kala bersama orang lain maupupun saat sendirian. Semakin baik seseorang menghayati makna puasa, maka semakin tentramlah jiwanya. Saat berpuasa, kita tidak hanya menahan rasa lapar dan haus, tetapi juga menahan emosi. Menahan diri dari rasa lapar dan haus lebih mudah bila dibanding dengan menahan amarah. Terkadang seseorang berkata kurang baik, berpikir buruk dan berperasaan negatif terhadap orang lain. Di Bulan Ramadhan ini, saat yang tepat untuk melatih pengelolaan emosi dan pengendalian diri, agar berperilaku baik terhadap orang lain.

Puasa sebagai pengendalian diri (self control) merupakan salah satu ciri utama bagi jiwa yang sehat. Saat seseorang tak memiliki pengendalian diri yang baik, maka akan muncul reaksi patologik. Hal ini tentu dapat berdampak buruk, baik untuk dirinya sendiri maupun oranglain. Sehingga dengan berpuasa, maka seseorang berlatih untuk meningkatkan ketrampilan dalam mengendalikan diri. Selain itu, ibadah puasa juga mampu menjadi sarana untuk mensucikan jiwa (tazkiyyatun nafs). Seseorang yang sungguh-sungguh menghayati ibadah puasa, maka di dalam jiwanya akan terhubung dengan begitu banyak makna dan hikmah positif. Contohnya saja, belajar untuk hidup sederhana dan saling berbagi kepada orang yang membutuhkan. Saat seseorang terbiasa hidup sederhana, maka hari-harinya akan dijalani dengan hati yang tenang dan nyaman. Bahkan dengan kesederhanaan, seseorang menjadi pribadi yang lebih pandai mensyukuri karunia dari Allah yang teah diperoleh selama ini. Sungguh rasa syukur yang luar biasa saat mampu menikmati hidangan buka puasa, terlebih bersama keluarga.

Seseorang yang mampu mengendalikan diri, maka ia mampu bersikap toleransi terhadap perbedaan. Bahkan ia dengan senang hati memberikan maaf kepada orang lain yang telah menorehkan luka dihatinya. Maaf tidak hanya diberikan kepada orang lain, melainkan juga pada diri sendiri. Orang yang mampu memaafkan diri sendiri, hidupnya lebih tenang dan bebas dari perasaan bersalahan yang berlebihan. Keadaan psikologis yang tentram dan tidak dipenuhi rasa amarah saat berpuasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Sebab saat seseorang marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat, yang menyebabkan resiko mengalami  penyakit jantung koroner, dan stroke lebih besar. Penyakit ini tidak akan menyerang, bila seseorang mampu mengontrol emosi.

Sehingga setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh, sudah selayaknya seseorang bermetamorfosis menjadi pribadi yang dewasa karena mampu menjaga tutur kata dan mengelola emosi  dengan lebih baik. Dengan demikian, pelaksanaan ibadah puasa ini mampu membetengi seseorang dari gangguan jiwa bahkan mampu meningkatkan kesehatan mental seseorang. Jadikan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan ini sebagai sarana untuk mengasah kepekaan hati dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jadikanlah motivasi utama dalam hidup kita untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin, dengan memberi manfaat sebesar mungkin kepada sebanyak mungkin umat manusia. Dan jadikan alasan utama kita melanjutkan hidup untuk terus menerus memperbaiki diri, keluarga, masyarakat hingga akhir hayat.  

 

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*