Agar tidak stres menghadapi COVID-19

Saat ini, Indonesia bahkan dunia sedang digemparkan oleh pandemi virus korona atau severe respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang disebut juga COVID-19. Berita tentang virus ini tersebar dimana-mana dan menjadi trending topik di semua platform berita, baik di media cetak ataupun media online. Tidak dapat dipungkiri bahwa virus ini sangat berbahaya karena penyebarannya yang sangat cepat dan dapat menyerang siapapun, tanpa pandang bulu. Semakin hari korban berjatuhan yang diakibatkan virus ini semakin banyak, beberapa ahli medis yang menjadi garda terdepan penanganan COVID-19 pun mengembuskan nafas terakhir akibat virus ini.
Sebagai upaya meminimalisisr penyebaran virus korona atau COVID-19 ini, pemerintah menyampaikan beberapa kebijakan, yaitu; masyarakat dihimbau untuk melakukan social-distancing, menghentikan kegiatan-kegiatan masyarakat yang melibatkan banyak orang, hindari berkumpul, anjuran sekolah dan bekerja di rumah/WFH (Work From Home) dan kampanye pentingnya menjaga kesehatan dengan selalu mencuci tangan menggunakan sabun, memakai hand-sanitizer dan memakai masker. Hastag #dirumahaja tersebar di semua media sosial, orang-orang yang berpengaruh seperti para artis, tokoh masyarakat, jurnalis tidak lelah mengampanyekan pentingnya #dirumahaja dan jangan kemana-mana. Semua gara-gara virus korona.
Dengan adanya banyak sekali berita tentang virus korona, beredarnya hoaks dan peningkatan jumlah pasien, akan menjadikan kita semakin cemas. Tubuh akan merespon kecemasan tersebut, beberapa orang akan mengalami gejala psikosomatis dan menjadikan stres. Menurut Bunda Pihasniwati, M.A., Psikolog, stres merupakan fenomena psikofisik yang manusiawi, akan dialami oleh setiap orang dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, ras, agama atau status sosial. Stres adalah suatu ketegangan yang dirasakan ketika menghadapi situasi baru, tidak menyenangkan atau mengancam.
Pandemik COVID-19 ini bisa mengakibatkan stres yang diikuti tanda-tanda atau gejala-gejala. Apa saja tanda kita mengalami stres ?

• Gejala fisiologis
Ketika kita membaca informasi atau berita tentang gejala positif virus korona, kita akan menjadi takut dan cemas bahwa kita akan tertular kemudian merasakan sakit kepala, tegang di leher atau bahu, tekanan darah meningkat, proses pencernaan terganggu, nafas menjadi lebih cepat dan berat dan detak jantung meningkat.
• Gejala psikologis
Kita merasakan kecemasan, mudah tersinggung, mudah marah, tiba-tiba ingin menangis, khawatir terhadap banyak hal, selalu mengeluh, tidak fokus dan merasa segalanya tidak beres.
• Perilaku
Kita menggalami kesulitan tidur, perubahan produktivitas, sulit berkonsentrasi dalam megerjakan aktivitas harian dan mengkonsumsi rokok, alkohol dan obat-obatan terlarang pereda stres.

Apa yang perlu kita lakukan agar tidak mudah stres dan tetap stay mentally healthy di tengah isu COVID-19 ini ?

• Olah pikir (berpikir positif)
Pikiran kita secara langsung mempengaruhi tubuh dan bagaimana cara bekerjanya. Berpikir positif membantu kita mengatasi situasi stres. Kewaspadaan terhadap COVID-19 sangat perlu, namun kita harus tetap menjaga pikiran kita agar tetap positif dengan menghindari mengonsumsi semua informasi dan berita terkait pandemik agar kita tidak mudah cemas, kita perlu memilah akun atau platform berita yang menurut kita terpercaya.
• Olah jiwa (Relaksasi/Mindfulness)
Relaksasi dapat membantu mengurangi tingkat stres. Salah satu yang dapat dilakukan yaitu dengan latihan nafas secara mindfulness. Teknik ini dapat membantu seseorang untuk menenangkan tubuh dan pikiran. Sehingga dapat melihat sesuatu dengan lebih jelas, lebih jernih dan memungkinkan untuk melihat dari sudut pandang yang lebih luas. Ketika pikiran kita jernih, kita tidak tidak mudah terprovokasi dan dapat lebih menikmati kebersamaan dengan keluaraga serta kegiatan WFH (Work From Home).
• Olah raga (Olah fisik)
Olah raga sangat dianjurkan sebagai upaya peningkatan kesehatan tubuh. Olah raga ini tidak memerlukan waktu yang lama, cukup rutin dilakukan di rumah selama 10-15 menit setiap hari. Olah raga mampu meningkatkan hormon serotonin dan endorphin, yang biasa disebut dengan hormon bahagia. Dengan adanya peningkatan hormon tersebut, tubuh merasa rileks, tenang dan bahagia.
• Olah gaya hidup (pola hidup sehat)
Menjalani social-distancing, rajin mencuci tangan, menggunakan masker ketika keluar rumah merupakan salah satu pola hidup sehat. Selain itu, mengkonsumsi makanan yang bernutrisi, istirahat yang cukup, hindari merokok dan begadang juga sangat penting. Memiliki gaya hidup sehat mampu menangkal stres.
• Olah rohani (spiritualitas)
Berdo’a, pasrah dan tawakkal kepada Allah mampu menolong kita dalam menangani stres. Bagaimanapun usaha kita melawan COVID-19, kita tetap memerlukan bantuan dari Yang Maha Kuasa. Dengan ikhtiar dan tawakkal, kita akan cenderung lebih mampu memaknai permasalahan dari sudut pandang yang lebih positif.

Jadi, melawan COVID-19 tidaklah mudah dan membutuhkan peran semua lapisan masyarakat. Tidak ada artinya apabila kita hanya merasa cemas namun tidak ada tindakan yang kita lakukan. Ikutilah kebijakan pemerintah, tetap waspada namun jangan panik, jaga kesehatan dan tetap di rumah aja.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top