Apa itu Detoksifikasi Mental?

Kita hidup dalam dunia yang serba menuntut. Sebagai individu yang berfungsi secara sosial, kita dihadapkan pada keadaan-keadaan yang berpotensi menimbulkan stimulus negatif. Contohnya: mendapat perlakuan yang tidak adil dari atasan, mendapat jawaban atau perkataan yang kurang mengenakkan hati dari teman, dan lain lain. Keadaan-keadaan tersebut seringkali membuat kita melakukan hal-hal yang tidak baik bagi kesehatan mental, seperti memendam dendam atau overthinking.

Efek dari stimulus negatif tersebut biasanya beragam. Mulai dari yang ringan seperti sensasi kepala yang terasa penuh, hingga yang tergolong berat seperti menjadi emosional, stress, bahkan depresi. Efeknya, biasanya hal-hal tersebut berpotensi menimbulkan pengalaman-pengalaman negatif dan masalah-masalah yang pelik dengan lingkungan sosial kita. Kita jadi sering miskomunikasi, sering marah-marah tidak jelas, dan sebagainya. Saat hal itu terjadi, tandanya pikiran kita sudah perlu didetoksifikasi.

Detoksifikasi sendiri menurut pengertian secara harfiah adalah proses pengeluaran racun dari tubuh. Pada ranah medis, contoh dari detoksifikasi adalah pengeluaran bisa ular dari dalam tubuh saat seseorang digigit ular. Detoksifikasi juga berupa pengeluaran zat-zat asing yang tanpa sengaja masuk ke dalam tubuh dan bersifat membahayakan. Zat-zat asing nan berbahaya yang menyusup ke dalam tubuh itu disebut dengan toksin. Ternyata, toksin tidak hanya berupa zat asing yang mencemari tubuh. Stimulus-stimulus negatif seperti perilaku orang lain yang menurut kita buruk, emosi orang lain yang dilampiaskan ke kita, atau tuntutan pekerjaan yang tinggi, ternyata juga bisa menjelma menjadi toksin yang tanpa kita sadari dapat masuk ke dalam pikiran dan mencemari pikiran kita.

Toksin yang dimaksud di sini, adalah konten-konten atau pengalaman pengalaman negatif yang direpresi oleh kesadaran kita ke alam bawah sadar. Menurut psikologi Freudian, jiwa kita terbagi atas 3 bagian, yaitu kesadaran, pra-sadar, dan ketidaksadaran. Jiwa kita menurut hemat Freud, adalah entitas yang labil dan rapuh, oleh karenanya, ia seringkali melindungi dirinya sendiri agar tidak ‘terserang’ oleh dunia luar. Salah satu dari cara pertahanan diri itu, disebut dengan represi. Represi diartikan sebagai proses penekanan pengalaman-pengalaman negatif atau emosi-emosi negatif, menjadi konten-konten di dalam ketidaksadaran. Namun begitu, konten-konten tersebut tanpa disadari, akan terus mendorong keluar dan menguasai jiwa kita, melalui perilaku-perilaku negatif seperti marah-marah, emosi, hingga mengamuk. Detoksifikasi mental, adalah proses ‘mengeluarkan’ dan menghilangkan konten-konten negatif yang bersifat toksin bagi mental kita ini.

Detoksifikasi penting untuk dilakukan saat kita mulai sulit untuk menyamakan frekuensi dengan orang-orang di sekitar kita. Berikut adalah langkah-langkahnya:

1. Untuk sementara, batasi interaksi dengan orang-orang yang seringkali membuat kita tidak nyaman. Bahkan jika orang itu penting seperti dosen atau atasanmu. Jagalah interaksimu sebatas untuk hal-hal yang betul-betul perlu.

2. Susunlah skala prioritas. Semisal pada konteks perkuliahan, selesaikan dulu tugas-tugas yang sifatnya pribadi. Dalam konteks pergaulan, selesaikan dulu aktivitas-aktivitas yg sifatnya pribadi. Misal, jika dirimu lelah lalu diajak keluar oleh teman, pilihlah untuk beristirahat dulu. Atau jika dihadapkan antara membersihkan kamar atau rapat, maka bersihkanlah kamarmu terlebih dahulu.

3. Perbanyak waktu me time. Waktu me time diartikan sebagai waktu untuk dirimu sendiri tanpa diganggu oleh apa pun dan siapa pun. Alokasi waktu untuk me time tidak harus lama. Menonton video Youtube, atau mendengar lagu kesukaanmu selama 10 menit, itu juga sudah termasuk me time.

4. Tahan diri untuk tidak bermain media sosial. Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa Salah satu sumber kecemasan terbesar itu adalah media sosial. Media sosial pada era ini telah menjadi sarana untuk menunjukkan eksistensi diri penggunanya, yang seringkali dilebih-lebihkan. Hal itu berpotensi mengundang kedengkian dan perasaan tidak bersyukur dari orang-orang yang melihatnya, termasuk kita.

5. Buatlah jam malam. Jam malam itu adalah batasan aktivitasmu untuk berkomunikasi dengan orang lain via gawai. Jika telah lewat jam tersebut, matikan Gawaimu, lalu tidur. Tunggu sampe keesokan harinya untuk membalas chat yang masuk ke gawaimu. Rekomendasi yang tepat untuk jam malam adalah jam 9.


6. Berikan dirimu sendiri sugesti positif setiap akan memulai aktivitas di pagi hari, seperti “Semua akan baik-baik saja”, atau “kamu pasti bisa melewati semua ini, semangat!”

Pada akhirnya, kita memang cenderung sulit untuk menyaring hal-hal apa saja yang masuk ke dalam medan pengalaman kita. Adalah sebuah keberuntungan jika pengalaman-pengalaman yang masuk dalam kehidupan kita bersifat positif. Namun hidup bukanlah selalu tentang tertawa dan berbahagia. Seringkali kita juga harus bertahan dengan pengalaman-pengalaman negatif. Untuk itu, penting bagimu untuk mencoba melakukan beberapa hal Ini hanya untuk sementara saja. Alokasikan waktu sekitar 1 minggu untuk melakukan tips-tips ini dan mengumpulkan energi untu kembali ke tuntutan-tuntutan dan aktivitasmu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top