BELAJAR 5S DARI NEGARA SAKURA

Kemajuan negara Jepang bukan serta merta didapat secara instan. Baik dari segi pendidikan, kesehatan dan juga termasuk dibangun dari segi perindustriannya. Tidak heran, masyarakat negara Jepang terkenal dengan semangat kerjanya yang tinggi dan pantang menyerah. Bahkan ada semboyan seorang samurai yang mereka idolakan adalah, “lebih baik mati daripada berkalang malu”. Yang menunjukkan semangat juang yang tinggi dan menjunjung harga diri yang tinggi pula. Semangat kerja tersebut kemudian diturunkan ke dalam beberapa prinsip sederhana yang sering diterapkan ke dalam manajemen pabrik, yakni 5S: Seiri (Ringkas), Seiton (Rapi), Seiso (Resik), Seiketsu (Rawat), Shitsuke (Rajin). 5S adalah hal kecil tapi akan memberikan dampak besar, terutama dalam proses produksi manufaktur yang memerlukan ketelitian alat, keadaan mesin yang prima, serta lingkungan kerja yang aman dan nyaman.

Hal-hal kecil tersebut misalnya saja barang-barang dan peralatan yang berserakan dalam lingkungan kerja khususnya di pabrik umumnya akan mengganggu pandangan mata, bukan hanya itu tetapi membuat orang tidak lagi peka atau tanggap terhadap hal-hal yang berbahaya yang tertutup oleh barang yang tidak beraturan. Hal demikian sangat riskan bagi lingkungan kerja pabrik yang mengandalkan pada permesinan sebagai salah satu alat produksi. Sementara itu pabrik yang berhasil menerapkan prinsip 5S umumnya akan kelihatan lebih bersih dan bersinar. Dalam prinsip 5S diyakini bahwa keadaan pabrik yang berantakan dapat menyembunyikan masalah. Penerapan prinsip 5S diharapkan mampu memunculkan masalah yang selama ini tersembunyi. Popularitas 5S tak lepas dari kesuksesan industri Jepang yang selama ini memusatkan perhatiannya pada pengurangan segala pemborosan (waste). 5S adalah landasan untuk membentuk perilaku manusia agar memiliki kebiasaan mengurangi pemborosan di tempat kerjanya.

Pertama, Seiri (Ringkas) yaitu membedakan antara yang diperlukan dan yang tidak diperlukan serta membuang yang tidak diperlukan. Dengan cara menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan dari tempat kerja.

Kedua, Seiton (Rapi) yaitu menentukan tata letak yang tertata rapi sehingga kita selalu menemukan barang yang diperlukan. Karena prinsipsnya setiap barang yang berada di tempat kerja mempunyai tempat yang pasti.

Ketiga, Seiso (Resik) yaitu menghilangkan sampah kotoran dan barang asing untuk memperoleh tempat kerja yang lebih bersih. 

Keempat, Seiketsu (Rawat) yaitu memelihara barang dengan teratur rapi dan bersih juga dalam aspek personal dan kaitannya dengan polusi.

Kelima, Shitsuke (Rajin) yaitu melakukan sesuatu yang benar sebagai kebiasaan. Dengan prinsip melakukan apa yang harus dilakukan dan jangan melakukan apa yang tidak boleh dilakukan.

Melihat keberhasilan industri Jepang, akhirnya program 5S diadopsi oleh berbagai industri di berbagai negara. Dan diharapkan kesuksesan industrinya dapat pula diterapkan di Indonesia. Suksesnya 5S terletak pada sejauh mana orang melakukan 5S sebagai suatu kebiasaan (habbit) bukan sebagai paksaan, sehingga inisiatif perbaikan akan muncul dengan sendirinya. Prinsip 5S tidak sulit untuk dipahami, tapi sangat sulit dilaksanakan secara benar. 5S memerlukan kegigihan, kebulatan tekad, dan memerlukan usaha yang terus menerus. 5S mungkin tidak akan memberikan hasil yang dramatis. Namun 5S membuat pekerjaan lebih mudah. 5S akan mengurangi pemborosan waktu kerja, akan membuat karyawan bangga atas pekerjaannya. Dan 5S juga akan meningkatkan produktivitas kerja dan mutu yang lebih baik, sedikit demi sedikit, tapi berkelanjutan, maka hasilnya akan nyata.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top