Gaya Hidup Minimalis Berdampak Pada Kesehatan Mental Kita Lho, Pelajari Yuk!

Seiring dengan kemajuan zaman di era digital, kita semakin mudah mengakses benda-benda yang kita inginkan melalui online shop, e-commerce dan berbagai media belanja online lainnya yang semakin menjamur. Entah berapa puluh benda yang kita beli dan kita tumpuk di rumah, padahal benda tersebut tidak kita butuhkan. Kita hanya membeli karena keinginan semata. Melihat hingar-bingar kehidupan orang lain melalui layar digital juga memberi sumbangsih terhadap keinginan kita untuk terus membeli berbagai benda yang hanya sekedar kita inginkan. Seperti ketika kita melihat sebuah baju yang diiklankan oleh seorang selebgram di instagram, seketika kita membeli baju tersebut karena kita melihat baju itu nampak cantik dipakai oleh seorang selebgram, dan kita memiliki keinginan untuk tampil cantik juga. Akhirnya kita memutuskan untuk membelinya, padahal di dalam lemari, tumpukan baju sudah menggunung. Bukankah kejadian tersebut hanyalah keinginan dan obsesi semata?

Tidak hanya obsesi, keinginan kita untuk terus membeli berbagai benda juga sebagai kompetisi diri maupun kompetisi dengan orang lain. Kita berlomba-lomba untuk memiliki berbagai benda yang sedang naik daun, berlomba-lomba untuk terlihat “lebih” di mata orang lain.

Awalnya kita akan merasa senang dengan benda-benda yang kita beli. Namun, sampai kapan rasa senang tersebut bertahan? Satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Hingga akhirnya kita menyadari kalau tumpukan benda tersebut justru menimbulkan ketidakbahagiaan dalam diri kita.

Ada penelitian yang menunjukkan orang-orang materialis yang memiliki tingkat konsumsi dan kepemilikan barang yang tinggi cenderung mengalami permasalahan psikologis, seperti insecure, overthinking, tidak puas pada hidup dan diri, serta relasi dan buruknya suasana hati.

Perilaku yang terus kita biarkan untuk membeli berbagai benda hanya karena obsesi kepemilikan, status dan keinginan untuk mendapatkan pujian, serta kompetisi dengan orang lain merupakan bentuk dari ketidakberdayaan kita dalam mengontrol keinginan. Berbagai benda yang menumpuk dan memenuhi kamar atau rumah kita akhirnya tidak membawa kebahagiaan dan manfaat, tapi justru menjadi masalah bagi kesehatan mental diri kita.

Tahukah kamu kalau barang-barang yang kita simpan memberikan kontribusi yang besar terhadap apa yang kita pikirkan? Semakin banyak benda yang kita miliki, maka semakin banyak juga yang kita pikirkan setiap harinya. Inilah yang membuat pikiran kita terlalu sibuk dan overthinking. Hingga akhirnya membuat kita sering merasa tidak nyaman, tidak tenang, insecure dan mudah stress. Semakin banyak benda juga berarti semakin banyak stimulasi di sekitar kita, sekaligus banyak insyarat visual yang dapat memicu pikiran atau ingatan. Benda yang terlalu banyak di sekitar kita dapat menyebabkan overstimulasi, yang dapat memicu episode skizofrenia pada seseorang yang rentan terhadap gangguan mental tersebut.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk menghadapi perilaku kita yang menunjukkan gaya hidup hedonis?

Setiap kita memiliki kontrol dan kendali terhadap diri kita sendiri, baik secara fisik dan mental. Termasuk juga kita memiliki kendali atas ketidakberdayaan kita menghadapi berbagai keinginan untuk membeli barang. Kita dapat memulainya dengan mengubah gaya hidup menjadi minimalis.

Lalu, apa itu gaya hidup minimalis?

Hidup minimalis adalah tentang menemukan apa yang penting bagi kita. Gaya hidup minimalis membuat kita memandang sesuatu dengan lebih sederhana. Termasuk dalam hal memutuskan apakah sesuatu itu adalah kebutuhan atau hanya keinginan semata? Gaya minimalis membuat kita dapat memegang kendali atas segala keputusan kita untuk membeli suatu benda, makanan, atau sesuatu yang kita anggap akan memberikan kebahagiaan. Berlatih hidup minimalis akan membuat kita terbiasa melepas obsesi dan keinginan yang tidak perlu dan fokus pada apa yang penting bagi kita. Hanya berfokus pada apa yang penting bagi diri kita dan tidak terbedaya oleh berbagai obsesi semu membuat pikiran kita lebih damai dan terhindar dari stress.

Jika kita terus membiarkan perilaku konsumtif yang kita miliki, fokus hidup kita hanya untuk mengejar uang demi membeli berbagai benda yang kita inginkan. Waktu dan tenaga kita akan habis hanya untuk mengejar keinginan semu. Akhirnya kita akan mengorbankan kesehatan dan kewarasan kita. Kita tidak menjadi manusia yang bahagia, tetapi justru lelah karena dikejar-kejar oleh segala obsesi yang kita miliki.

Minimalisme membawa kita kepada keputusan untuk berpikir mana yang penting untuk kita. Belajar hidup minimalis membuat kita memiliki kesempatan melihat ke dalam diri, mendalami, dan memahami apa yang betul-betul dibutuhkan oleh diri ini. Mengenali dan memahami kebutuhan diri menciptakan mental yang lebih sehat. Karena mengetahui apa yang dibutuhkan oleh diri, membuat kita tidak perlu mencari-cari sumber kebahagiaan yang semu, kita akan berfokus pada sesuatu yang penting dan bermanfaat bagi diri kita.

Hidup minimalis juga membuat kita belajar berhenti sejenak, untuk melihat ke dalam diri, menjauhkan diri dari segala keramaian dan berdialog dengan diri sendiri. Hal ini akan mengarahkan kita untuk mengambil keputusan yang benar-benar hasil dari perenungan yang matang. Kebiasaan melihat sesuatu yang penting bagi kita akan membuat pikiran kita menjadi lebih jernih dalam memandang dan memutuskan sesuatu. Sehingga kita tidak mudah diperdaya oleh keinginan-keinginan membeli berbagai benda hanya demi sebuah obsesi memiliki.

Sebuah penelitian di Jerman menyebutkan bahwa gaya hidup yang kita pilih berkaitan erat dengan kesehatan mental kita. Semakin sehat gaya hidup yang kita pilih, baik secara fisik dan mental, maka semakin tinggi juga kepuasan hidup kita serta semakin rendah tekanan psikologis yang dirasakan. Akhirnya ini akan membawa kita kepada mental yang lebih sehat. Jadi, tidak ada salahnya untuk mencoba gaya hidup minimalis kan? 🙂 

 

  

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top