Lindungi Orang Sekitar dari Self-Harm

 

Usia dewasa awal merupakan masa transisi, masa pencarian jati diri dan masa menapaki kehidupan baru dimana kita dituntut menjadi mandiri dan tidak lagi bergantung dengan orang lain. Memasuki usia ini, beberapa individu akan mengalami Quarter Life Crisis (QLC); segala pertanyaan tentang hidup akan terlintas di pikiran, merasa sendirian, terisolasi dari sosial dan mengalami kebingungan. QLC akan semakin buruk apabila ditambah dengan permasalah hidup yang berat. Tidak jarang seseorang akan mengalami stres apabila di masa QLC tidak dibarengi dengan aktivitas positif dan pikiran rasional. Bahkan, akan mengakibatkan depresi, putus asa, menarik diri dari lingkungan, dan kesepian.

Pada beberapa kasus yang diakibatkan oleh QLC dan kesulitan hidup, individu yang merasa rendah diri akan melukai diri sendiri (self-harm) sebagai luapan emosi negatif yang terpendam. Seseorang yang mempunyai riwayat self-harm kemungkinan besar juga memiliki suicidal thought (pemikiran untuk bunuh diri). Tanpa kita sadari seseorang yang berpotensi melakukan self-harm ada di sekitar kita, tidak hanya terjadi di kisah-kisah film. Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi seseorang melakukan self-harm, alasan-alasan tersebut bersifat personal bagi setiap orang. Diantaranya; untuk mengalihkan perhatian, melepas stres, pengaruh masa kecil dan penghukuman untuk diri sendiri.

Siapa saja yang melukai dirinya sendiri sesungguhnya sedang berjuang untuk mengatasi masalah yang dihadapinya dan sangat memerlukan bantuan. Mereka seringkali merahasiakan pencederaan yang mereka lakukan, bahkan dari teman-teman atau keluarga. Orang yang melakukannya biasanya merasa sangat malu, bersalah, atau merasa begitu buruk sampai-sampai tidak berani membicarakannya. Lalu, apa yang bisa kita lakukan pada seseorang yang cenderung melakukan self-harm ?

  • Dorong untuk bercerita

Berikan mereka ruang untuk menceritakan permasalahan yang mereka hadapi. Kita perlu mempelajari teknik menjadi pendengar yang aktif. Pahami apa yang menjadi masalah dalam dirinya, dan tempatkan posisi kita seolah-olah berada dalam situasi yang sama. Katakan dengan nada yang ramah dan penuh empati seperti “Saya melihat ada (luka/memar) di tubuh kamu, dan aku ingin memahami apa yang kamu alami“.

  • Jangan menghakimi

Hindari komentar-komentar yang menyinggung dan menyakiti, hal ini justru akan memperburuk situasi. Perlu diingat bahwa seseorang yang melakukan self harm karena mereka mengalami tekanan, malu dan sendirian.

  • Tawarkan bantuan

Tunjukkan bahwa kita peduli dan khawatir dengan kondisinya, dan beritahukan bahwa kita bersedia untuk membantu saat mereka membutuhkan bantuan untuk pergi ke dokter/psikolog atau bantuan untuk didengarkan.

  • Berikan support

Selain menyediakan telinga untuk mendengarkan isi hati seseorang yang melakukan self-harm, kita juga perlu memberikan kepercayaan kepada mereka bahwa kita ada untuk menemani ketika mereka membutuhkan. Kita tidak perlu memberikan nasihat, cukup memberikan dukungan agar seseorang tersebut tidak berlarut dalam kesedihan; dengan cara berdamai dengan diri sendiri dan fokus pada hal-hal yang disukai dan dapat dikembangkan.

Beberapa alasan yang melatarbelakangi self-harm, mengingatkan kita untuk tidak mudah menilai seseorang yang telah melakukannya. Beratnya rasa sakit, beban hidup, serta kesulitan yang dialami seseorang menjadi alasan di balik terjadinya self-harm. Alasan-alasan ini pula yang menyadarkan kita bahwa self-harm dilakukan bukan karena seseorang ingin mencari masalah, tetapi justru menjadi cara untuk mengatasi permasalahan yang dialaminya.

Setiap manusia yang hidup di dunia pasti akan dihadapkan dengan permasalahan yang datang silih berganti, dan setiap manusia akan dihadapkan dengan permasalahan yang berbeda-beda. Quarter Life Crisis seringkali mempertanyakan kembali apa, siapa dan mau kemana diri kita. Namun yang kita temukan hanyalah diri kita yang tidak berdaya. Jangan biarkan stres, insecure, kesedihan melemahkan kita selamanya. Kita hanya sedang berada di situasi sulit yang bersifat sementara, tidak selamanya. Masalah akan berlalu, kita akan kembali menemukan kebahagiaan jika kita mempunyai kemauan untuk menemukannya, bukan dengan menyakiti diri yang justru akan memperburuk keadaan.

Apabila ada teman atau sahabat yang mempunyai kecenderungan menyakiti diri sendiri, luangkanlah waktu untuk menanyakan kabarnya. Tawarkan bantuan, sediakan telinga untuk mendengarkan dan bahu untuk bersandar. Tidak ada yang benar-benar tahu situasi kesedihan seseorang hingga orang tersebut mau membuka diri untuk bercerita. Biarkan mereka menangis sejadi-jadinya tanpa penilaian dan penghakiman dari kita, berikan kepercayaan bahwa kita bersedia membantu dan tidak akan pergi meninggalkannya. Teman adalah keluarga yang membutuhkan bantuan kita di titik terendahnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top