Mari Peduli dan Pahami ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) di Sekitar Kita

Tidak semua masalah kejiwaan lantas membuat orang tersebut menderita gangguan jiwa. Akan tetapi, masalah kejiwaan dapat berpotensi membuat seseorang mengalami gangguan jiwa. Menurut UU Kesehatan Jiwa No.18 tahun 2014, terdapat perbedaan antara ODMK (orang dengan masalah kejiwaan) dengan ODGJ (orang dengan gangguan jiwa). ODMK yaitu orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan dan kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa, sedangkan ODGJ yaitu orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang bermanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan atau perubahan perilaku yang bermakna serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

Sebagai contoh yang masih sering kita jumpai di sekitar kita seperti ODGJ yang di pasung, di kurung, atau di diskriminasi dan dikucilkan karena di anggap mengganggu dan meresahkan lingkungan. ODGJ seakan-akan di anggap sebagai pelaku yang meresahkan lingkungan, padahal dengan perlakuan yang demikian secara tidak langsung mereka telah menjadi korban atas perlakuan yang diberikan oleh orang-orang disekitarnya. Selain itu kita juga sering menemukan kasus ODGJ yang sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang kembali ke rumah dan bersosialisasi di masyarakat, namun tidak lama harus dibawa kembali ke RSJ karena kembali kambuh. Padahal hal tersebut sebenrnya disebabkan oleh stigma buruk dari masyarakat yang terus memandang mereka sebagai “orang gila”. Masyarakat diharapkan peduli dan memberikan dukungan sosial yang positif kepada ODGJ, dengan tidak melakukan diskriminasi, labeling. Mereka seharusnya diberikan ruang kontribusi didalam masyarakat dengan menyesuaikan kadar kemampuan yang mereka bisa. Dengan demikan ODGJ atau orang yang sudah dinyatakan sembuh dari RSJ akan merasa dihargai dan diperlakukan dengan baik oleh lingkungan, hal ini tentu akan memberikan pengaruh positif pada kesehatan mental mereka.

Stigma ODGJ di Indonesia

Kita pasti pernah bertemu atau melihat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) lalu menyebutnya dengan istilah orang gila? Sikap yang demikian merupakan salah satu contoh stigma terhadap ODGJ. Stigma telah menyebabkan ODGJ merasa malu, menyalahkan diri sendiri, putus asa, dan enggan mencari atau menerima bantuan. Sekitar 75% orang dengan penyakit mental melaporkan bahwa mereka telah mengalami stigma negatif. Bukan hanya itu, perlakuan diskriminatif juga diterima oleh ODGJ. Kita mungkin bisa dengan mudah mengatakan ODGJ sebagai orang gila. Namun, menurut psikolog klinis, Tara de Thouars, stigma ini terlalu ekstrem dan menghakimi, sehingga membuat mereka yang punya masalah atau stres takut mendapatkan penghakiman seperti itu. Untuk menghentikan stigma, masing-masing orang harus menyadari bahwa setiap orang punya kemungkinan untuk menjadi ODGJ. Ini karena setiap orang tidak bisa menghindar dari stres dan tekanan hidup.

Lalu, untuk menghapus stigma, kita juga sebaiknya tidak melabeli atau menghakimi orang dengan penyakit mental. Caranya, perlakuan mereka dengan hormat, seperti kita melakukannya pada orang lain. Jika kita sering memberikan label “orang gila” dengan mudahnya kepada orang lain hanya karena kita melihat penampilannya yang tidak rapi dan perilaku yang aneh. Lalu bagaimana jika salah satu anggota keluarga kita mengalaminya?,  apakah kita juga akan memberikan label dan stigma negatif?. Memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan kejiwaan seringkali dianggap aib, padahal mereka membutuhkan bantuan kita untuk sembuh. Mulai sekarang, jangan sampai kita jadi salah satu dari pihak yang mencibir dan menelantarkan orang-orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Mengapa? Karena ODGJ masih memiliki kecerdasan emosional, sehingga cibiran dan cacian hanya akan membuat mereka makin depresi sehingga bisa membahayakan nyawanya sendiri. 

Menurut data dari World Federation on Mental Health, 2016-2017, satu dari empat orang dewasa akan mengalami masalah kesehatan jiwa pada satu waktu dalam hidupnya. Setiap 40 detik di suatu tempat di dunia ada seseorang yang meninggal karena bunuh diri. Di sinilah peran keluarga dibutuhkan. Di mana keluarga adalah garda terdepan berperan dalam menjaga kesehatan jiwa anggota keluarganya. Keluarga juga menjadi pihak yang memberikan pertolongan pertama psikologis apabila tampak gejala-gejala yang mengarah pada masalah kesehatan jiwa.

 

Apakah semua orang bisa menjadi ODGJ?

Sebenarnya, siapa saja bisa berisiko mengalami gangguan kejiwaan. Sebab, stres, kecemasan, perubahan mood, manajemen emosi yang kurang baik merupakan beberapa faktor penyebab gangguan kejiwaan yang tidak luput hadir dalam kehidupan setiap orang. Mudahnya, setiap orang pasti memiliki permasalahan tersendiri, namun yang membedakannya adalah kemampuan coping dan daya lenting dalam menghadapi permasalahan tersebut. oleh karena itu, kita tidak pernah tau apakah orang lain sedang menghadapi permasalahan yang seperti apa dalam hidup nya, maka jangan mudah berkata buruk seperti meremehkan, mengejek, atau menjatuhkan orang lain. karena ha-hal demikian dapat membuat seseorang semakin tertekan dengan persoalan hidup yang sudah ada. Dengan memberikan kata-kata positif dan saling memberikan dukungan kepada orang-orang dilingkungan terdekat kita, merupakan salah satu langkah kita dalam peduli untuk mencegah masalah kejiwaan. Selain itu mencegah diri sendiri dari gangguan kejiwaan juga sangat perlu, seperti berusaha untuk bebas dari stres, dan prasangka negatif. Kita perlu untuk belajar berpikir positif dan mencari lingkungan yang suportif dan selalu mendukung. Kita juga bisa mencari kegiatan yang bermanfaat sehingga selalu merasa termotivasi dan berharga. 

Apa yang harus di lakukan?

Seseorang yang mulai merasa stres, pikiran dan emosi terganggu, dan sudah merasa tidak bisa menemukan solusi sendiri, sebaiknya segera ke psikolog. Tujuan psikolog adalah melihat, mengetahui dan membantu masalah yang saat ini mengganggu dan juga kemungkinan adanya masalah lain yang berkontribusi pada masalah saat ini. Sehingga ada kemungkinan akan menanyakan masalahnya lebih detail dan mendengarkan apa yang dirasakan. Tips untuk berkonsultasi ke psikolog adalah terbuka dan tidak menutupi apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dirasakan. Jadilah diri sendiri ketika bicara dengan psikolog agar mereka dapat melihat masalah secara lebih luas karena tujuannya bukan untuk menghakimi atau menasehati, tetapi untuk memahami lebih jauh permasalahannya. Jika diperlukan, psikolog akan melakukan tes psikologi untuk mendapatkan gambaran lebih detail dan akan melakukan terapi yang sesuai untuk mengatasi masalah kliennya. Maka dari itu jika kita merasa memiliki permasalahan yang menggangu aktivitas sehari-hari jangan menunda untuk segera konsultasikan kepada pihak profesional, seperti Psikolog atau psikiater sebelum menjadi gejala yang semakin parah. perlu di ingat bahwa mecegah lebih baik daripada mengobati juga berlaku untuk kesehatan mental.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top