Membangun Karakter Positif Anak Usia Dini

Penulis : PIHASNIWATI, S.PSI., PSIKOLOG,. CHt

Pusat Psikologi Terapan Metamorfosa

Jln. Parangtritis Km.09, Timbulharjo, Sewon, Bantul 

Ada apa dengan Pendidikan karakter Anak?

Apa yang kita bayangkan tentang kehidupan masa depan anak-anak kita pada 20 tahun ke depan? Saat itu dunia semakin flat, anak-anak kita akan menghadapi persaingan dengan rekan-rekannya dari berbagai negara di dunia. Anak-anak kita menikmati dunia modernitas dalam bentuknya yang paling modern. Dimana nilai-nilai moral dan nilai-nilai spiritual kehidupan semakin dipertaruhkan. Karakter seperti apa yang akan memenangkan kesuksesan dan kebahagiaan. Tahun 2002  National Asssociation of Colleges and Employers (NACE) di Amerika Serikat, melakukan jajak pendapat dengan 457 pengusaha besar untuk mengetahui daftar urut kualitas yang dianggap penting dari seorang lulusan universitas, dan diperoleh daftar prioritas karakter dan keterampilan sebagai berikut :

No

Kualitas

Skor

1.     

Kemampuan berkomunikasi

4,69

2.    

Kejujuran/integritas

4,59

3.    

Kemampuan bekerjasama

4,54

4.    

Kemampuan interpersonal

4,50

5.    

Etos kerja yang baik

4,46

6.    

Memiliki motivasi dan inisiatif

4,42

7.    

Mampu beradaptasi

4,41

8.    

Kemampuan analitik

4,36

9.    

Kemampuan komputer

4,21

10.  

Kemampuan berorganisasi

4,05

11.   

Berorientasi pada detail

4,00

12.  

Kemampuan memimpin

3,97

13.  

Percaya diri

3,95

14.  

Berkepribadian ramah

3,85

15.  

Sopan/beretika

3,82

16.  

Bijaksana

3,75

17.  

IP > 3,0

3,68

18.  

Kreatif

3,59

19.  

Humoris

3,25

20. 

Kemampuan enterpreunership

3,23

Data ini sangat menarik, manantang dan menuntut kita untuk merealisasikan sebuah pendidikan yang menghasilkan sumber daya unggul. Jika itu adalah daftar harapan karakter lulusan universitas yang siap memenangkan persaingan dunia kerja. Kapan kita memulainya?. Apa yang paling layak untuk kita perjuangkan untuk anak-anak kita mulai dari sekarang? Bekal terbaik apa yang tidak bisa tidak harus mereka miliki untuk menjemput kesuksesan dan kebahagiaan di masa depan?  Dan hal berharga apa yang akan didapat oleh anak-anak kita jika saat ini kita bersungguh-sungguh memberikan pendidikan terbaik untuk mereka?

Good Character disebut-sebut sebagi tuntutan kualitas sumber daya manusia tahun 2021. Mereka  adalah orang-orang yang senang belajar, terampil menyelesaikan masalah, komunikator yang efektif, berani mengambil risiko, punya integritas dan jujur, dapat dipercaya,  dapat diandalkan, penuh perhatian, toleransi, dan luwes. Dari banyak literatur yang berbicara seputar emotional intteligence, diungkap kecerdasan emosi menyumbang 80% kesuksesan di masa depan.

Pendidikan Karakter, Tanggung Jawab Siapa? (font: Maiandra GD, judul dan konten)

Jelas pendidikan adalah tanggung jawa bersama. Setidaknya tiga titik sinergitas pendidikan layak untuk dibangun, ketiganya adalah, rumah, sekolah dan masyarakat. Jalur pendidikan yang terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal diharapkan dapat saling melengkapi dan memperkaya. Sayangnya, agaknya selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter nak didik. Biasanya, alasan kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif  tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media elektronik menjadi kambing hitam yang cukup sering terdengar. Padahal pendidikan karakter seharusnya dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan, setidaknya antara sekolah, rumah dan komunitas masyarakat.

Bagaimana Mengembangkan Pendidikan Karakter Anak Usia Dini dalam Keluarga? (font: Maiandra GD, judul dan konten)

Sebuah ungkapan terkenal mengungkapkan “Anak-anak berjumlah hanya sekitar 25% dari total populasi, tapi menentukan 100% dari masa depan”.

Sudah terbukti bahwa periode yang paling efektif untuk membentuk karakter anak adalah sebelum usia 10 tahun. Diharapkan pembentukan karakter pada periode ini akan memiliki dampak yang akan bertahan lama terhadap pembentukan moral anak. Efek berkelanjutan (multilier effect) dari pembentukan karakter positif anak akan dapat terlihat, seperti yang digambarkan oleh Jan Wallander, “Kemampuan sosial dan emosi pada masa anak-anak akan mengurangi perilaku yang beresiko, seperti konsumsi alkohol yang merupakan salah satu penyebab utama masalah kesehatan sepanjang masa; perkembangan emosi dan sosial pada anak-anak juga dapat meningkatkan kesehatan manusia selama hidupnya, misalnya reaksi terhadap tekanan (stress), yang akan berdampak langsung pada proses penyakit; kemampuan emosi dan sosial yang tinggi pada orang dewasa yang memiliki penyakit dapat membantu meningkatkan perkembangan fisiknya.”

Membentuk karakter  merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula. Semakin dini pendidikan karakter diberikan, semakin terprogram di dalam diri anak sebagai kepribadian. Dalam pembentukan karakter, ada empat  hal yang berlangsung secara terintegrasi :

  1. Pertama, anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan apa yang harus diambil, mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik.
  2. Kedua, anak-anak memiliki kecintaan terhadap kebajikan dan membenci perbuatan buruk.
  3. Ketiga, anak mampu melakukan kebajikan
  4. Keempat,anak terbiasa melakukan kebajikan itu.

Pilar-pilar karakter yang penting ditanamkan pada anak, yaitu :

  1. Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya
  2. Tanggung jawab
  3. Kedisiplinan
  4. Kejujuran
  5. Hormat dan santun
  6. Kasih- sayang
  7. Kepedulian dan kerja sama
  8. Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah
  9. Keadilan dan kepemimpinan
  10. Baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan persatuan.

Pada akhirnya, beri anak kesempatan untuk berkembang dan memiliki bekal yang cukup bagi kehidupannya di masa mendatang melalui contoh dan keteladanan, mengajarkan kebiasaan yang baik dan menstimulasi semua area perkembangan dengan cara menyediakan lingkungan yang kaya pengalaman. Ada baiknya kita menyimak kembali, sebuah sajak dari Dorothy Law Nolte dan Diane Loomans

Anak Belajar dari kehidupannya (Font: Fragment Core, judul dan konten)

  • Jika anak hidup dengan rasa bangga, dia akan belajar menghargai
  • Jika anak hidup dengan kritikan, dia akan belajar untuk menghukum
  • Jika anak hidup dengan penuh penerimaan, dia akan belajar untuk mencintai
  • Jika anak hidup dengan rasa hina dia akan belajar merasa malu
  • Jika anak hidup dengan penuh kejujuran, dia akan belajar untuk berkata sejujurnya
  • Jika anak hidup dengan kekerasan dia akan belajar untuk bertengkar
  • Jika anak hidup dengan penuh keterbukaan, dia akan belajar keadilan
  • Jika anak hidup dengan rasa iri dia akan belajar untuk merasa iri
  • Jika anak hidup dengan berbagi, dia akan belajar kebaikan hati
  • Jika anak hidup dengan toleransi, dia akan belajar kesabaran
  • Jika anak hidup dengan perhatian, dia akan belajar menghormati

Seandainya saja, saya bisa membesarkan ulang anak saya :

  • Saya akan lebih banyak bermain bersamanya, dan mengurangi main perintah
  • Saya akan lebih sedikit mengoreksi, dan lebih banyak mengait-ngaitkan
  • Saya akan lebih banyak memperhatikan daripada menghitung-hitung waktu
  • Saya akan lebih sering berjalan-jalan, dan lebih sering bermain layang-layang
  • Saya akan mengurangi bersikap serius, dan lebih serius bermain-main
  • Saya akan lebih sering bermain-main di lapangan dan lebih banyak mengamati bintang-bintang
  • Saya akan lebih banyak memeluk daripada membentak
  • Saya akan lebih banyak mengiyakan daripada melarang-larang
  • Saya akan lebih dulu membesarkan harga dirinya, sebelum membesarkan rumah
  • Saya akan akan lebih banyak mengajarkan kekuatan cinta daripada cinta akan kekuatan
  • (diadaptasi dari Diane Loomans, Full Esteem Ahead)

Rujukan : diambil dari berbagai sumber. (font: TNR)

Penulis adalah  Konselor dan Pelatih di Pusat Psikologi Terapan Metamorfosa Yogyakarta, Dosen Prodi Psikologi Universitas Islam Sunan kalijaga Yogyakarta. (font: TNR)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top