Membangun Kelekatan Orang Tua pada Anak

Kelekatan merupakan suatu ikatan emosional anak melalui interaksi dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua (Mc Cartney & Dearing, 2002).

Menurut Jacobson dan Hoffman (1997) dalam Papalia, Olds & Feldman (2009), bila anak mendapatkan dasar aman dan mempercayai respon orang tua, mereka akan memiliki percaya diri untuk terlibat secara aktif baik dalam kegiatan sehari-hari maupun organisasi. Anak dengan kelekatan tidak aman cenderung akan menunjukan emosi negatif (rasa takut, distress, dan marah), sementara anak dengan kelekatan aman terlihat lebih ceria (Koshanska, 2002 dalam Papalia, Olds & Feldman, 2009).

Kelekatan (attachment) antara orang tua dan anak memberi dampak signifikan pada perilaku anak di masa depan. Jika anak memiliki kelekatan yang baik atau secure attachment dengan orang tuanya, maka diyakini anak tersebut akan berkembang lebih optimal dan memiliki perilaku yang positf.

Bagaimana cara membangun kelekatan yang sehat pada anak? 

1. Jadilah Penuh Perhatian & Responsif

Kelekatan adalah proses berkelanjutan timbal balik. Menumbuhkan rasa aman dan terlindungi pada anak, orang tua perlu menanggapi kebutuhan anak  terutama ketika anak sedang sakit atau dalam tekanan emosional. Bersikaplah responsif terhadap anak kebutuhan emosional atau fisik apa yang dibutuhkan. Menanggapi kebutuhan anak tidak berarti harus berada di sampingnya 24 jam sepanjang hari. Kuncinya ialah mengenali bahwa mereka membutuhkan (dari perspektif mereka), dan kemudian memenuhi kebutuhan mereka. Tanggapan orang tua kepada anak ketika dia sedang membutuhkan akan mengajari anak bahwa dia penting, bahwa ia adalah orang yang layak. Karena itu, ia akan merasakan rasa harga diri, merasa percaya diri, merasa aman dan dapat mempercayai diri sendiri / orang lain.

2. Jadilah Sensitif & Mendidik

Ketika menanggapi kebutuhan emosi anak, kuncinya adalah menjadi sensitif dan sesuai. Emosi orang tua harus selaras dengan emosi atau kebutuhan anak. Jika anak sedih, orang tua hendaknya tidak bercanda tentang kesedihannya. Sebaliknya, orang tua harus bersikap empatik dan menunjukkan pemahaman. Ketika orang tua mencoba menenangkan harus dengan lembut. Kepekaan dan sikap penanganan yang lembut akan memungkinkan anak merasa terhibur, diterima, dan dihormati. Penanganan kasar atau reaksi marah akan membuat anak merasa ditolak atau merasa bahwa ia tidak layak.

3. Hadir secara Fisik & Emosional 

Pastikan orang tua menghabiskan waktu berkualitas dengan anak bahkan 15 hingga 30 menit sehari. Hadir secara fisik dan emosional yaitu ketika orang tua menghabiskan waktu berkualitas dengan anak. Waktu berkualitas yang orang tua habiskan bersama anak akan memperkuat ikatan dan memberikan interaksi yang menyenangkan bagi keduanya. Kadang-kadang orang tua yang memiliki riwayat pelecehan atau menderita masalah emosional / mental yang tidak diobati mungkin akan mengalami kesulitan untuk terikat dengan anak-anak. Ketika orang tua merasa sulit untuk bersikap empatik terhadap anak-anak, orang tua didorong untuk melihat masalah mereka sendiri dalam proses konseling. Masalah-masalah ini dapat mengganggu perawatan yang sensitif, responsif & asuhan untuk anak-anak.

 

Source: 

Chika, A. (2015). Hubungan antara Kelekatan Orang Tua-Anak terhadap Kecerdasan Moral.

Wong, P. (2015). Healthy Attachment with Young Children.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top