Mengenal Cinta dalam Kehidupan Manusia

“Aku cinta kamu, mau gak kamu jadi teman hidupku?”. Kata-kata tersebut merupakan kata yang mungkin sering diucapkan dan sering kita dengarkan dalam serial telenovela, serial drama Korea atau mungkin sinetron Indonesia seperti yang sedang booming sinetron Ikatan Cinta. Cinta, pasti setiap insan di dunia ini sudah tidak asing denga kata-kata tersebut. Cinta terhadap hewan, terhadap lingkungan, terhadap orang tua bahkan dengan lawan jenis kita. Ada juga istilah cinta buta atau bahkan budak cinta dalam istilah masa kini. Lantas apa itu cinta?

Cinta menurut Syekh Amin al-Kurdi yaitu kecenderungan tabiat kepada sesuatu, karena keadaan itu amat lezat bagi orang yang bercinta kasih. Cinta ini merupakan suatu perhiasan yang diberikan Allah kepada manusia. Sesuai dalam Q.S Ali Imran ayat 14 yang berarti,”Dihiasi manusia dengan rasa cinta, syahwat terhadap wanita (lawan jenis, anak, harta yang menggunakan timbang-menimbang, emas dan perak, kuda tunggangan (kendaraan), peternakan dan pertanian. Itulah semua perhiasan dunia. Dan Allah adalah tempat kembali yang terbaik”.

Cinta menurut Sternberg (Indriastuti & Nawangsari, 2014)  memiliki komponen yaitu intimacy, passion, dan commitment. Intimacy merupakan suatu elemen yang bersifat emosional yang meliputi perasaan dengan menunjukkkan kedekatan, keterikatan serta keterkaitan secara emosional kepada pasangan. Intimacy ini juga meliputi perasaan manusia merasa hangat ketika merasakan cinta. Lanjut ke komponen kedua yaitu ada passion atau bahasa Indonesia gairah. Passion merupakan suatu elemen yang bersifat motivasional atau dorongan untuk memenuhi hasrat yang mengacu pada romantisme, keterikatan secara fisik dan seksual dalalam hubungan. Menurut Hatfield dan Walster (Indriastuti & Nawangsari, 2014) dalam passion ini terdapat rasa pada kerinduan pada manusia untuk bersatu, tentu bersatu dalam hal ini dengan orang atau suatu hal yang dicintai lho ya. Komponen selanjutnya yaitu dalam cinta ada yang namanya commitment. Commitment atau komitmen merupakan suatu elemen yang bersifat kognitif dari cinta yang dalam jangka pendek itu mengacu pada keputusan untuk mencintai pasangannya dan dalam jangka panjang mengacu pada menjaga untuk mempertahankan cintanya.

Setelah mengatahui mengenai komponen cinta, ternyata cinta itu terdapat perannya dalam kehidupan manusia.  Tentu peran utama cinta menurut Maslow (Setiawan, 2014) yaitu berkaitan dengan kesehatan jiwa yang dimiliki oleh manusia. Ternyata dampak cinta ini sangat berat dan besar bagi manusia. Suatu hal yang urgent atau penting yang harus dimiliki manusia karena berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia. Menurut Maslow (Setiawan, 2014) cinta ini merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi  oleh manusia. Manusia memiliki kebutuhan untuk memberi dan menerima perhatian orang lain serta kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki. Ingat ya memiliki dan dimiliki serta memberi dan menerima tidak hanya memiliki dan memberi saja. Jika itu yang terjadi mungkin kata remaja masa kini dikatakan sebagai cinta bertepuk sebelah tangan. Tentu karena manusia ini makhluk sosial yang dalam hidupnya berusaha untuk mengatasi perasaan sendiri dan keterasingan. Jadi dengan adanya cinta ini maka menyebabkan manusia itu terhindar dari perasaan sendiri dan asing. Tidak asyik juga kan hidup ramai-ramai, main-main eh merasa sendiri. Oleh sebab itu, perlu sekali manusia itu untuk menjalin hubungan sesama manusia. Tidak mungkin juga kan tidak keluar rumah hanya berdiam diri saja tiba-tiba dapat sang pujaan hati jadi hayuk tetap bersosialisasi ya.

Memang cinta itu salah satu kebutuhan yang perlu untuk dipenuhi sehingga bisa dikatakan cinta itu merupakan suatu hal yang penting. Walaupun begitu perlu diketahui walaupun cinta itu merupakan suatu perhiasan tetapi jangan sampai berlebihan terhadap cinta terutama cinta terhadap hal yang bersifat duniawi, karena mampu berdampak buruk terhadap kehidupan baik dunia ataupun akhirat. Lantas timbul pertanyaan apakah cinta kepada Allah dan Rasul mampu berdampak buruk juga? Tentu tidak karena mencintai yang memberi perhiasan merupakan suatu hal yang lebih baik dibanding mencintai perhiasannya saja. Lantas bagaimana perwujudan bentuk cinta kita terhadap Yang Maha Kuasa? Salah satunya yaitu untuk bersyukur terhadap apa yang telah berikan Allah kepada kita dengan banyak mengucapkan Alhamdulillahi rabbli ‘alamin. Tentu cinta terhadap Allah merupakan suatu hal yang perlu ditempatkan dalam posisi yang paling atas dikarenakan menempatkan cinta Allah pada posisi paling atas merupakan tanda orang yang beriman seperti halnya dalam Q.S Al Baqarah ayat 165, ”Mereka mencintai sesamanya seperti mencintai Allah, tetapi orang yang beriman adalah mereka yang amat sangat cintanya kepada Allah.”

Sepetinya sudah mengetahui lebih dalam mengenai cinta itu ya. Tentu cinta ini merupakan suatu komponen yang sangat dibutuhkan dalam menjalani kehidupan di muka bumi. Jika ada lagu mengatakan bahwa “hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga” maka ungkapan tersebut benar adanya bahwa dengan cinta selain kesejahteraan diri dan kesehatan mental yang sehat terbentuk juga mampu terciptanya keindan di dunia ini. Walaupun begitu tetap menempatkan cinta terhadap Allah di atas segalanya karena Allah merupakan Yang paling segalanya dan paling sempurna.

Referensi

Indriastuti, Ira & Nur Ainy Fardana Nawangsari. (2014). Perbedaan Cinta (Intimacy, Passion, Commitment) Ditinjau dari Lamanya Usia Perkawinan pada Istri yang Bekerja.  Jurnal Psikologi Industri dan Organisasi, 3(3), 151-157.

Setiawan, Hendro. 2014. Manusia Utuh:Sebuah Kajian atas Pemikiran Abraham Maslow. Yogyakarta:PT Kanisius.

Rahmawati. (2013). Cinta dalam Pandangan Sufisme. E Journal IAIN Kendari, 6(2) 236-243.

2 thoughts on “Mengenal Cinta dalam Kehidupan Manusia”

  1. It is actually a great and useful piece of info. I’m happy that you simply shared this helpful info with us.
    Please keep us up to date like this. Thanks for sharing.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top