Mengenal Ekspresi Emosi

Artikel

Jika kita menyadari dan memperhatikan benar-benar, sesungguhnya aspek yang paling mewarnai dan menentukan irama hidup kita adalah emosi. Tanpa emosi manusia bukanlah manusia, karena dalam kehidupan kita emosi menjadi bagian yang tak terpisahkan. Pembahasan tentang emosi, sesungguhnya adalah pembahasan tentang kerja otak yang menjadi mesin penggerak tingkah laku kita. Emosi menjadi sebuah sistem penggerak hidup kita karena letaknya di otak, cara kerjanya sangat berkaitan erat dengan seluruh sistem yang lain, yang juga mendorong munculnya tingkah laku kita terutama yang berkaitan dengan kemampuan kognitif.

                Setelah memahami apa yang paling mendasar dalam hidup seseorang adalah emosi, maka hal itu menjadi sesuatu yang penting untuk diketahui semua orang. Dengan mempelajari emosi, kita dapat mengenal emosi diri sendiri dan mampu mengembangkan kecerdasan emosi yang sehat yang akan mengantarkan kita hidup sukses di masa yang akan datang. Kemunculan emosi seseorang bisa dikenali dari ekspresi yang ditampilkan seketika itu dan seringkali sulit dikontrol atau ditutup-tutupi, baik dari perubahan wajah, nada suara, atau tingkah lakunya. Ekspresi emosi selain diwarisi secara genetis juga diperkaya oleh berbagai pengalaman dalam berinteraksi dengan orang lain. Berkacak pinggang saat marah, loncat kegirangan sewaktu memenangi pertandingan, adalah contoh-contoh ekspresi emosi dalam bentuk tingkah laku yang diperoleh dari pengalaman berinteraksi dengan orang lain. Bentuk-bentuk ekspresi emosi manusia yang sering muncul dalam realitas antara lain : ekspresi wajah, suara, sikap dan tingkah laku, serta ekspresi lain seperti pingsan, kejang-kejang, ngompol dan sebagainya.

  1. Ekspresi wajah

Ekspresi wajah merupakan ekspresi yang seringkali muncul jika kita mengalami peristiwa emosi. Wajah pucat, merah, mengerut, berseri-seri adalah sederet bentuk ekspresi emosi yang lazim dialami.

  1. Ekspresi suara

Ekspresi suara saat emosi dikenal secara umum dalam pergaulan sehari-hari, seperi tertawa, bersenandung, berteriak-teriak, memaki, atau tiba-tiba terenyak dengan tatapan kosong. Ekspresi suara mungkin tidak segampang diketahui bila dibandingkan dengan ekspresi wajah dalam mengomunikasikan emosi, tapi keduanya sangat penting. Para pakar komunikasi menganggap bahwa komunikasi dalam bentuk ekspresi suara lebih mudah dipahami dan lebih berpengaruh ketimbang berbentuk tulisan.

  1. Ekspresi sikap dan tingkah laku

Ekspresi emosi dalam bentuk tingkah laku cakupannya sangat luas, seluas aktivitas manusia itu sendiri. Namun, dapat dibagi menjadi dua ekspresi sikap dan tingkah laku yaitu: tingkah laku pelibatan diri (attachment) dan pelepasan diri (withdrawal). Tingkah laku emosi dengan pelibatan diri adalah tingkah laku dengan upaya bergerak maju mempertahankan suasana yang menyenangkan pada emosi positif. Tingkah laku agresif dan eksplosif adalah contoh pelibatan diri dalam menghadapi berbagai ancaman sebagai upaya mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism). Sedangkan tingkah laku emosi dalam bentuk pelepasan diri adalah lari atau menghindar dari obyek yang menimbulkan emosi. Contoh dari ekspresi pelepasan diri adalah lari terbirit-birit untuk menyelamatkan diri dari sumber yang menakutkan atau tertunduk malu.

  1. Ekspresi lain-lain

Dari ketiga ekspresi di atas, terdapat sebuah ekspresi lain yang dinilai sebagai ekpresi yang muncul saat emosi berat. Hal ini biasanya dijumpai oleh orang yang mengalami syok berat atau bahkan tak sadarkan diri (pingsan). Demikian juga pada sebagian orang, ada yang latah dengan menyebut kata-kata tertentu, terutama ketika kaget. Latah ini banyak terjadi dikalangan masyarakat Indonesia. Latah ini dapat digolongkan pada ekpresi suara tetapi karena ekspresinya spesifik dan tidak terjadi pada setiap orang, maka dimasukkan dalam kelompok ekspresi lain-lain.

                Wajar bagi kita untuk merasa sedih, marah, kecewa, takut maupun malu. Emosi-emosi yang kita sangka akan membawa dampak buruk bagi kita bisa jadi merupakan tanda bahwa ada yang belum selesai dalam diri kita. Kita masih menyimpan isu-isu lama yang belum kita tuntaskan sehingga muncul emosi-emosi yang kita anggap negatif. Yang perlu kita lakukan adalah mengelola emosi-emosi tersebut hingga kita bisa menerimanya dan melepaskannya dengan baik.

 

Referensi :

HM, E. M. (2016). Mengelola kecerdasan emosi. Tadrib, 2(2), 198-213.

Nadhiroh, Y. F. (2017). Pengendalian Emosi. SAINTIFIKA ISLAMICA: Jurnal Kajian Keislaman, 2(01), 53-62.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*