Mengenal Gaya Kepemimpinan Wanita, Interactive Leadership

Menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi dinilai sebagai jabatan yang hanya terbuka bagi kaum laki-laki. Pembagian kerja yang didasarkan pada jenis kelamin merupakan cerminan sikap dan persepsi sebagian masyarakat yang menempatkan posisi laki-laki lebih tinggi daripada wanita. Namun, kondisi masyarakat saat ini telah berkembang pesat yang memungkinkan bergesernya pandangan mengenai nilai-nilai sosial budaya. Salah satunya mengenai pembagian kerja yang tidak lagi berdasarkan jenis kelamin. Tidak hanya laki-laki yang mempunyai kompetensi sebagai seorang pemimpin, tetapi wanita pun yang memiliki kemampuan maupun keterampilan berpeluang menempati posisi strategis sebagai seorang pemimpin.

Pada dasarnya pemimpin lahir dari suatu proses menciptakan wawasan, membangun kerjasama, mengembangkan strategi serta mampu bertindak. Pemimpin bukan suatu jabatan ataupun gelar, pemimpin merupakan hasil dari proses perubahan seseorang atau transformasi internal dalam diri seseorang. Ketika seseorang, baik laki-laki maupun wanita menemukan visi misi hidupnya, ketika ucapan dan tindakannya dapat mempengaruhi lingkungannya, ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itu seseorang itu sudah lahir menjadi seorang pemimpin.

Kepemimpinan wanita bersumber dari hasil pengalaman mereka sebagai wanita. Interactive Leadership merupakan gaya kepemimpnan yang melibatkan karyawan dalam memahami tugas dan tujuan organisasi sehingga mereka dapat menjadi kontributor yang efektif untuk mencapainya. Gaya kepemimpinan wanita mempunyai ciri partisipasi. Wanita akan melakukan cara-cara untuk membuat setiap orang berpartisipasi dalam organisasi. Misalnya, pemimpin wanita mendorong setiap orang untuk berpendapat pada setiap kesempatan atau berpartisipasi dalam penentuan strategi maupun tujuan organisasi.  

Ciri pertama gaya kepemimpinan wanita interactive leadership ialah partisipasi. Partisipasi merupakan suatu cara mengembangkan rasa menghargai pada diri seseorang dan membangun kepercayaan bahwa seseorang itu dapat melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya. Wanita akan mencoba menciptakan situasi yang dapat mengembangkan perasaan tersebut. Pemimpin wanita biasanya akan menanyakan saran dari semua pihak sebelum mengambil keputusan serta menguji keputusan tersebut sebelum benar-benar menerapkannya. Pemimpin wanita akan menjelaskan pandangannya secara eksplisit agar setiap orang juga memahaminya.

Ciri kedua dari gaya kepemimpinan wanita ialah berbagi kekuatan dan informasi (to share power and information). Pemimpin wanita lebih menyukai mengumpulkan banyak orang untuk menentukan keputusan atau menetapkan strategi daripada mengumpulkan sebagian kepala bidang organisasi. Pemimpin wanita lebih percaya bahwa berbagi kekuatan dan informasi akan membuahkan hasil-hasil positif, seperti memungkinkan terciptanya kesetiaan/loyalty karena ide dan gagasan bawahan atau semua pihak didengar dan diperhatikan. Berbagi kekuatan dan informasi akan memberi kesempatan kepada semua pihak untuk turut mengupayakan kesimpulan, pemecahan masalah, dan penyesuaian keputusan.

Gaya kepemimpinan ini mempunyai keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dari gaya kepemimpinan ini adalah 1) Membuat setiap orang mampu mengekspresikan ide, saran, pendapat sehingga suatu keputusan telah dipertimbangkan dengan matang, 2) Meningkatkan dukungan pada setiap keputusan serta mengurangi resiko keputusan itu ditentang, karena banyak orang merasa ikut dan terlibat dalam pengambilan suatu keputusan, 3) Mudah mencari pengganti seseorang, jika seseorang yang bertanggungjawab atas suatu tugas/proyek berhalangan, akan dapat dengan mudah digantikan oleh orang yang lain. Disisi lain, kelemahan gaya kepemimpinan ini adalah 1) Membutuhkan lebih banyak waktu dalam penyampaian ide karena melibatkan lebih banyak orang, 2) Wanita harus terbuka terhadap kritik yang tak jarang menyulut konflik pribadi, 3) Adanya pandangan bahwa menanyakan sesuatu kepada orang lain dianggap sebagai ketidaktahuan pemimpin mengenai solusi akan suatu masalah, 4) Tidak semua orang mau ikut berpartisipasi.

Wanita cenderung menggunakan gaya kepemimpinan interactive leadership yang memungkinkan terlibatnya partisipasi dari semua pihak yang berbagi kekuatan dan informasi dalam proses perkembangan organisasi. Tentunya gaya kepemimpinan ini memiliki keunggulan dan kelemahan, tinggal bagaimana pemimpin wanita dan semua pihak organisasi bekerjasama mengelola keunggulan dan kelemahan tersebut agar tujuan organisasi tercapai.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top