MENGENALI PERILAKU SELF DIAGNOSIS

 

Self Diagnosis? Apasih itu?

Apakah kita pernah menganggap kalo kita mempunyai suatu gangguan atau penyakit? Bahkan kita sampai mengucapkan pada diri sendiri “duh kayaknya aku stress nih”, “duh kayaknya aku depresi” “duh aku pusing nih, jangan-jangan aku kena kanker”, padahal belum tentu yang kita diagnosis tersebut terjadi tanpa adanya pemeriksaan terlebih dahulu dari  ahlinya. Hati-hati, jangan sampai kita melakukan “self diagnosis” loh karena dapat berbahaya dan berimbas pada diri kita sendiri.

Hmmm kira-kira apa sih yang dimaksud dengan self diagnosis? Lalu seberapa bahayanya self diagnosis? Mari kita simak pembahasan di bawah ini..

Self diagnosis adalah upaya mendiagnosis diri sendiri memiliki sebuah gangguan atau penyakit berdasarkan informasi yang kita dapatkan secara mandiri tanpa pemeriksaan dan diagnosis dari ahli, misalnya dari teman, keluarga, atau dari media sosial. Padahal, diagnosis tidak asal ditetapkan tetapi ditentukan berdasarkan gejala, keluhan, riwayat, ataupun faktor lain yang kita alami.

Bahaya Self Diagnosis

  1. Kemungkinan adanya kekeliruan dalam melakukan diagnosis atau gejala yang dialami

           Hal ini terjadi karena beberapa gangguan kesehatan memiliki gejala yang serupa. Contohnya perubahan mood yang secara mendadak selalu dikaitkan dengan gejala gangguan bipolar. Padahal perubahaan mood secara mendadak bisa saja menandakan perubahan mood karena hormonal seperti yang dialami oleh perempuan.

  1. Membuat kepanikan yang tidak berdasar

           Saat kita melakukan diagnosis suatu masalah kesehatan pada diri sendiri sebenarnya kita mensugesti diri kearah sana, sehingga membuat diri kita cemas dan meyakini mengalami penyakit-penyakit tersebut padahal kita tidak mengalaminya.

  1. Bisa mengkonsumsi obat yang salah

           Saat kita menetapkan diagnosis yang keliru, bisa menimbulkan pengobatan yang salah pula. Resikonya pun tidak main-main, kesehatan kita menjadi taruhannya jika keliru atau salah meminum obat. Karena bisa jadi obat yang kita minum memiliki dosis tinggi yang dapat membahayakan tubuh. Contohnya kita meminum obat anti depresan untuk mengurangi depresi padahal kita hanya terlalu banyak yang dipikirkan tanpa perlu meminum obat depresi.

  1. Memicu gangguan kesehatan yang lebih parah

           Self diagnosis terkadang dapat memicu timbulnya beberapa gangguan kesehatan yang sebenarnya tidak kita alami. Contohnya, seperti kita sulit untuk tidur dari jadwal biasanya dan merasa mengalami insomnia, lalu setiap sulit tidur kita mendiagnosis bahwa kita insomnia, padahal insomnia tersebut tidak terjadi namun dapat beresiko memunculkan gangguan yang lebih parah yaitu depresi.

Jika perilaku mendiagnosis diri sendiri ini dilakukan, tidak hanya menimbulkan suatu ke keliruan informasi saja tetapi dapat membahayakan kesehatan. Kita harus dapat bersikap bijak mengelola informasi mengenai kesehatan mental yang beredar di media sosial agar tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan. Ada baiknya saat kita mengalami gejala suatu penyakit fisik ataupun psikis, segera periksakan kepada ahlinya seperti dokter, psikolog, atau psikiater.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top