MENYEMBUHKAN LUKA HATI DENGAN FORGIVENESS THERAPY

Artikel

 

              Sebagai manusia, kita tentu pernah mengalami peristiwa yang menyakitkan. Jika peristiwa yang menyakitkan tersebut terikat pada diri dan kita kesulitan untuk melepaskan emosinya, maka akan menjadi masalah bagi kesehatan kita, terutama kesehatan mental. Terdapat sebuah alternative yang baik untuk mengobati sekaligus melepaskan emosi negative yang terjadi oleh peristiwa menyakitkan tersebut, yaitu memaafkan. Pemaafan biasanya muncul dari adanya sakit hati karena peristiwa yang menyakitkan tersebut. Jika kita membicarakan tentang pemaafan berarti kita juga sekaligus membicarakan tentang mengelola dan mengeksplorasi sakit hati, karena pemaafan adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari reduksi dan rekonstruksi sakit hati. Biasanya, orang yang belum mampu memaafkan adalah meraka yang masih memiliki sakit hati yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman buruk yang menghadirkan luka. Ketika sakit hati kita mulai tereduksi, pemaafan akan lebih mudah kita lakukan. Sakit hati tersebut adalah bagian dari emosi negatif berupa perasaan marah yang tersimpan dalam diri kita di waktu yang lama. Bahkan mungkin bisa seumur hidup yang sewaktu-waktu dapat muncul saat kita memikirkan peristiwa atau orang lain yang menyebabkan sakit hati (Ekman, 2007/2010 dalam Theofani, E., & Herdiana, I. 2020). Situasi itu akan datang setelah kita merasa dikecewakan dan terluka sampai pada tahap kesedihan tertentu (Fitzgibbons dalam Enright dan North, 1998).

                Sakit hati yang kita rasakan berkaitan dengan ketidakmampuan kita untuk memaafkan. Menurut Worthington (2005) jika kita memaafkan berarti kita meredakan afeksi, kognisi, motivasi dan perilaku dari sakit hati. Menurut Fitzgibbons dalam Enright dan North (1998) kita dapat menghadapi sakit hati dengan mekanisme dasar berikut :

  1. Menyangkal dengan menutupi segala perasaan, pikiran, motivasi negative dan perilaku yang ada dalam diri.
  2. Melawan secara pasif maupun aktif terhadap penyebab luka atau sakit yang bisa juga disebut ekspresi agresi
  3. Pemaafan, dengan cara mengelola sakit hati secara positif

                Pemaafan menjadi salah satu teknik psikoterapi yang dapat kita praktekkan. Pemaafan sebagai  psikoterapi  adalah salah satu cara untuk membebaskan dan menerima sepenuhnya emosi negatif, seperti rasa marah, bersalah, depresi, rasa malu, sebagai fasilitas penyembuhan, juga sebagai perbaikan diri dan perbaikan interpersonal  dengan  berbagai  situasi  permasalahan  (Walton,  2005). Terapi pemaafan dapat membangkitkan keinginan kita untuk memaafkan seseorang atau peristiwa yang menyakiti diri kita selama ini.

                Terapi pemaafan membantu kita untuk menerima dan menghadirkan kembali pengalaman luka dan penderitaan, menemukan penanggung jawab utama, mengidentifikasi korban, mengekspresikan perasaan sakit hati secara tepat, serta masuk ke dalam keutuhan diri, setelah menerima kembali diri sendiri maupun orang lain secara bertanggung jawab. Baumeister dkk. (1998) menggambarkan dua dimensi dari pemaafan. Pertama adalah dimensi intrapsikhis. Dimensi ini melibatkan aspek emosi dan kognisi dari pemaafan. Kedua adalah dimensi interpersonal. Dimensi ini melibatkan aspek sosial dari pemaafan.

                Banyak manfaat yang akan kita dapatkan dari terapi memaafkan. Terapi pemaafan  dapat membantu  kita  untuk  lebih dapat mengontrol  pikiran  negatif  menjadi lebih   positif.  Kita akan cenderung tetap fokus pada tujuan yang akan kita capai jika kita dapat mengontrol kemarahan akibat peristiwa yang tidak menyenangkan. Terapi pemaafan dapat meningkatkan kekuatan batin kita, meningkatkan spiritualitas, memperbaiki hubungan interpersonal, penghargaan untuk kehidupan seseorang, termotivasi untuk melindungi diri, dan menyusun kembali prioritas dalam hidup kita (McCullough, Root, & Cohen, 2006).

Lalu, bagaimana proses untuk memaafkan?

Menurut Enright (2002) terdiri dari 4 tahap yaitu :

  1. Tahap membongkar atau menyingkap emosi negatif / uncovering phase. Pada tahap ini terdiri dari 2 tahapan, yaitu ;
    • Identifikasi Emosi Negatif dalam Diri. Tahap pertama dari proses pemaafan adalah mengungkap atau membuka emosi negatif. Seseorang hanya bisa mulai memaafkan saat  dia menemukan sifat dan kedalaman emosi negatif yang dia rasakan.
    • Mengatasi Emosi Negatif terdalam. Reaksi normal untuk memulai perjalanan pemaafan adalah merasa bahwa seseorang telah berbuat cukup banyak. Proses memaafkan dapat dilakukan dengan mengidentifikasi berbagai efek yang mungkin dimiliki seseorang saat menghadapi emosi negatif
  1. Tahap memutuskan / decision phase

Keputusan untuk memaafkan atau tidak memaafkan akan menjadi suatu hal yang dapat membantu kita melalui proses memaafkan, termasuk bekerja keras untuk memaafkan, hingga akhirnya kita bisa menghilangkan emosi negatifnya sepenuhnya.

  1. Tahap bekerja dengan pemaafan / work phase. Pada tahap ini dibagi menjadi 2 yaitu :
    • Memperoleh Perspektif Baru. Mengarahkan pusat perhatian yang ada pada diri individu dan kemarahannya pada sudut pandang yang berbeda.  Sudut pandang yang baru lebih diarahkan pada sudut pandang yang umum dan tentang agama.
    • Membangun Perasaan, Pikiran dan Perilaku Positif. Proses memaafkan perlu disertai adanya, waktu untuk berusaha tetap membuka diri terhadap perkembangan positif yang akan terjadi.
  1. Tahap memperdalam / outcome phase.

Ketika seorang telah menemukan cara bagaimana prosese pemaafan telah mengubahnya… penemuan-penemuan mengenai diri sendiri dan pemaafan yang dirasakan akan membebaskan individu dari ikatan emosional dan mengubahnya di masa depan untuk menentukan tujuan hidup baru

 

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*