Perilaku Merokok, Perlu Dievaluasi Kembali

Penulis : Shinta Putri Megawati, S.Psi
Pusat Psikologi Terapan Metamorfosa
Jln. Parangtritis Km. 09, Timbulharjo, Sewon, Bantul, 55186

Merokok bagi beberapa orang dapat menghadirkan rasa tenang tersendiri. Bahkan kondisi umum perokok saat ini, sebagai gaya hidup agar tampak trendi, cool, gaul, maco dan bersahabat dengan orang lain yang juga sama-sama merokok. Perilaku tersebut biasanya dikenal dengan istilah konformitas, yang artinya seseorang dapat mengubah sikap dan perilaku mereka supaya diterima oleh lingkungannya.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menjadi perokok, diantaranya karena proses modelling/ meniru. Seseorang akan mengamati dengan seksama peristiwa yang terjadi di dalam lingkungannya. Setelah itu, ia akan meniru dan mempraktekkan sesuai dengan apa yang telah ia amati. Bahkan banyak ditemukan orang yang menjadi perokok karena di lingkungan keluarganya banyak yang merokok.
Tapi perilaku merokok perlu mendapat evaluasi lebih lanjut. Sebab secara psikologis, perilaku merokok dapat membawa dampak bagi pelaku merokok maupun orang yang berada di sekitarnya. Awalnya, dengan merokok seseorang menjadi lebih nyaman, dan lama kelamaan maka akan timbul rasa ketergantungan. Hal ini terjadi karena efek dari nikotin yang berpengaruh pada produksi hormon dopamin di dalam otak. Dopamin inilah yang memberikan efek menenangkan dan menyenangkan saat merokok. Namun, ketika nikotin terus menginduksi hormon dopamin, otak secara bertahap akan mengurangi produksi hormon dopamin ketika nikotin tidak ada, dan otak akan merasakan kebutuhan yang lebih besar terhadap nikotin untuk merasa nyaman. Oleh karena itu, terjadilah kecanduan terhadap rokok dan dalam jangka panjang, akan berdampak buruk bagi kondisi kesehatan.
Sehingga bisa dikatakan bahwa perilaku merokok dapat merusak diri sendiri. Rokok telah terbukti menjadi penyebab timbulnya berbagai penyakit seperti radang paru-paru, sakit jantung, kanker, batuk, gangguan pernapasan dan masih banyak lagi efek negatifnya. Oleh karena itu penting bagi para perokok untuk bersungguh-sungguh mengubah kebiasaan merokok. Hal ini tentu harus dimulai dari diri sendiri.
Terdapat beberapa terapi yang dapat digunakan untuk mengurangi kecanduan pada rokok, salah satunya terapi perilaku kognitif. Seseorang harus sadar sepenuhnya terhadap perilakunya yang akan diubah. Sehingga hal yang bisa dilakukan yaitu menyingkirkan setiap benda yang bisa memicu untuk merokok lagi, seperti asbak, rokok, poster orang merokok. Selain itu, saat muncul keinginan untuk merokok maka tahan terlebih dahulu sekian lama, hingga kondisi menjadi lebih baik. Hal yang paling penting yaitu bulatkan dalam tekad bahwa perubahan kebiasaan merokok ini demi kebaikan bagi diri sendiri, keluarga dan orang-orang di sekitar. Dengan demikian, maka hidup menjadi lebih bahagia tanpa ketergantungan pada nikotin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top