Puasa untuk Kesehatan Jiwa

Artikel

Bimbo, salah satu musisi legendaris pernah menciptakan lagu mengenai puasa dengan liriknya,”Puasa-puasa sebetulnya menyehatkan.” Perintah ibadah puasa terdapat di Al Qur’an dan Hadist. Adapun hukum puasa, ada yang wajib dan sunnah. Contoh dari puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa Qadla’ dan puasa Kafarat sedangkan contoh dari puasa sunnah seperti puasa Senin Kamis, puasa Arafah dan masih banyak lagi. Puasa Ramadhan merupakan puasa yang dilakukan oleh umat Islam.

Puasa berasal dari Bahasa Arab yaitu shaum. Arti kata shaum yaitu menahan. Secara syari’at, puasa merupakan menahan diri dari kegiatan yang membatalkan puasa dimulai sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari (Aqiilah, 2020). Perintah untuk melaksanakan puasa salah satunya terdapat dalam Q.S Al Baqarah ayat 183 yang artinya,” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” sehingga pesan iksplisit dari ayat tersebut dengan berpuasa mampu menjadikan seseorang menjadi bertakwa.

Puasa ternyata memiliki banyak manfaatnya bagi yang menjalankannya. Allah akan memaafkan dosa-dosa di masa lalu bagi individu yang berpuasa. Selain dimaafkan dosanya individu yang berpuasa mampu mendapatkan manfaat pada tubuhnya. Manfaat berpuasa bagi organ tubuh diantaranya mampu menurunkan kadar kolesterol, menurunkan tekanan darah, memperbaiki fungsi ginjal dan jantung serta manfaat bagi tubuh yang lainnya (Subrata & Dewi).  Selain bermanfaat bagi kesehatan tubuh, berpuasa juga mampu menyehatkan jiwa pada individu.

Tentu untuk mencapai kesehatan jiwa, individu perlu melakukan pemaknaan yang penuh dalam menjalankan ibadah puasa. Sehingga melalui pemaknaan ibadah puasa indvidu akan emmeperoleh berlimpah manfaat. Manfaat yang pertama, puasa mampu menghasilkan emosi positif bagi tubuh. Folkman (Aqiilah, 2020) menyatakan bahwa pemaknaan yang positif terhadap suatu hal akan membentuk emosi positif pada individu. Bagi individu yang mampu memaknai puasa secara positif akan membentuk individu yang bahagia. individu yang bahagia akan merasa puas dalam menjalani hidupnya. Oleh karena itu, kebahagiaan akan meningkatkan kesehatan jiwa pada individu.

Puasa yang dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh mampu membentuk pribadi yang senang membantu. Banyak penelitian yang membahas bahwa puasa ini berkorelasi positif dengan keinginan untuk membantu orang lain. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Aqiilah (2020). Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa subjek yang melakukan puasa akan merasakan mudah untuk membantu orang lain. Bulan Ramadhan juga memerintahkan seseorang untuk bersedekah serta melaksanakan zakat. Nilai yang terkandung dalam bersedekah dan berzakat yaitu meningkatkan kepedulian serta menolong sesama. Pribadi yang mudah menolong, ternyata mampu meningkatkan kesehatan jiwa seseorang.

Selain itu, puasa merupakan proses menahan diri dari berbagai nafsu yang ada pada individu. Salah satu proses menahan diri yaitu menahan dari emosi marah. Rasulullah bersabda,”Janganlah kau marah bagimu surga.” Hadist tersebut memberi tanda seseorang yang mampu menahan emosi marah mampu memperoleh surga. Biopsikologi menyebutkan pada individu yang marah terdapat kombinasi kadar serotonin yang rendah, noradrenalain yang tinggi dan hormon dopamine akan tinggi  (Julianto & Muhopilah, 2015). Individu yang marah mampu meningkatkan detak jantungnya. Berpuasa bermanfaat untuk  menahan marah. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Julianto & Muhopilah (2015) yang menyatakan bahwa berpuasa mampu meregulasi emosi marah dengan baik. Individu yang memiliki tingkat regulasi emosi marah yang baik maka ia dapat dikatakan individu yang sejahtera jiwanya.

Pemaparan di atas menguatkan bahwa puasa memiliki berbagai manfaat. Menjalankan Ibadah puasa secara bersungguh-sungguh mampu mendapatkan pahala, menjaga kesehatan organ tubuh serta kesejahteraan jiwa yang baik. Benar kata Bimbo dalam liriknya bahwa puasa dengan ikhlas mampu meningkatkan martabat diri serta lahir batin suci kembali.

Referensi

Julianto, Very & Pipih Muhopilah. (2015). Hubungan Puasa dan Tingkat Regulasi Kemarahan. Psympatic:Jurnal Ilmiah Psikologi, 2(1), 32-40.

Subrata, Sumarno Adi & Marses VariaDewi. (2017). Puasa Ramadhan dalam Perspektif Kesehatan:Literatur Review. Kzahanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora, XV(2), 241-262.

Aqiilah, Ikhda Izzatul. (2020). Puasa yang Menajubkan (Studi Fenomenologis Pengalaman Individu yang Menjalankan Puasa Daud). Jurnal Empati, 9(2), 82-108.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*