RESIKO PSIKOLOGIS PERNIKAHAN DINI PADA ANAK

Pernikahan dini masih terjadi di banyak negara termasuk Indonesia. Pernikahan dini  terjadi pada anak usia dibawah 17 tahun,  faktor pernikahan dini biasanya disebabkan karena budaya dan sosioekonomi. Banyak pihak orang tua yang menganggap anak menjadi ‘penyelamat’ keuangan keluarga ketika menikah. Ada juga yang menganggap anak belum menikah jadi beban finansial keluarga. Orang tua menjadi kurang edukasi untuk mencegah pernikahan di usia anak. Akibatnya, perkawinan pada usia anak menjadi nyaris tak terkendali, padahal perkawinan pada usia anak merupakan masalah yang sangat serius karena mengandung berbagai risiko dari berbagai aspek, seperti kesehatan, psikologi, dan sosiologi.

Pengertian dari pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan pasangan belum cukup umur yakni laki laki dan wanita yang belum memasuki umur 17 tahun. Adapun usia pernikahan wajar menurut  Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Sehingga mereka yang melakukan pernikahan di bawah usia 18 tahun adalah pernikahan tidak wajar karena usia belum matang,  serta mental yang masih belum stabil.

Resiko pernikahan dini cukup berbahaya baik dari segi wanita maupun pria dan juga dari berbagai aspek mulai dari kesehatan, psikologi dan mental. Meski ada beberapa dampak positif, namun tidak seimbang dengan lebih banyaknya dampak negatif pernikahan dini. Resiko pernikahan dini diantaranya:

  1. Menyebabkan Gangguan Kognitif

Jimmi MP Aritonang, dokter Spesialis Jiwa OMNI Hospitals Pulomas Jakarta, mengatakan secara psikologi, perkawinan anak juga menyebabkan gangguan kognitif, seperti tidak berani mengambil keputusan, kesulitan memecahkan masalah, dan terganggunya memori. “Dominasi pasangan rentan menyebabkan terjadinya ketidakadilan, kekerasan rumah tangga serta perceraian. Di sisi lain, tuntutan bersosialisasi dalam masyarakat atau menghadapi pandangan masyarakat akan membuat si anak merasa tertekan dan cenderung menutup diri dari aktivitas sosial. Hal ini dapat menyebabkan produktivitas menurun dan sedikit peluang untuk melanjutkan pendidikan.

  1. Gangguan Mental

Pada anak usia dini cenderung belum mampu mengelola emosi dan mengambil keputusan dengan baik. Akibatnya, ketika dihadapkan dengan konflik rumah tangga, sebagian pasutri menggunakan jalan kekerasan. Hal ini tentu mengarah pada gangguan mental seperti depresi dan PTSD. Selain itu, keguguran atau kehilangan anak yang kerap terjadi pada. Juga bisa menyebabkan gangguan mental dan trauma.

  1. Tekanan Sosial

Keluarga dekat, kerabat, hingga masyarakat bisa menjadi beban tersendiri bagi pasutri usia dini. laki-laki dituntut untuk menjadi kepala rumah tangga dan menafkahi keluarganya, padahal usianya masih sangat belia. Sementara perempuan dituntut untuk membesarkan anak dan mengurus rumah tangga, padahal secara psikologis mereka belum sepenuhnya siap mengemban tanggung jawab tersebut.  Jika pasutri tidak mampu memenuhi tuntutan sosial tersebut, mereka mungkin saja dikucilkan atau dicap buruk oleh warga setempat. Akibatnya, pasutri jadi semakin sulit mendapatkan bantuan dan dukungan yang mereka butuhkan dari orang-orang di sekitarnya.

Pada pernikahan dini terlalu banyak dampak negatif yang bisa terjadi, sebab pernikahan tersebut tidak didasari dengan kemampuan dan kemandirian. Sehingga akan lebih baik jika dipertimbangkan secara matang.  Pernikahan dini baik yang dilakukan secara terpaksa atau bukan umumnya juga akan memberikan tanggapan kurang baik dari sebagian masyarakat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top