Rumah yang sekolah, Sekolah yang rumah

Penulis : Pihasniwati, M.A., Psikolog

Pusat Psikologi Terapan Metamorfosa 

Jln. Parangtritis Km.09, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta

 

Refleksi Peran Orang Tua dan Guru Dalam Pendidikan Anak

Miris, satu kata untuk menggambarkan nasib anak-anak Indonesia yang disebut Komnas Perlindungan Anak pada tahun 2014 ini sebagai  tahap darurat dalam angka kekerasan pada anak. Betapa tidak, di wilayah Jabodetabek saja yang pada tahun 2010  tercatat 2.046 kasus kekerasan pada anak, pada tahun 2013 melonjak menjadi 3.339 kasus  (http://nasional.kompas.com/read/2014/05/07/0527140/Indonesia.Darurat.Kekerasan.pada.Anak)

Kasus pelecehan seksual di Jakarta International School dan kasus yang terjadi pada Renggo (10 tahun) yang mengalami sakit parah selama lima hari setelah penganiayaan oleh kakak kelasnya dan berakhir dengan kematian menjadi sebagian berita yang menyentakkan kesadaran tentang betapa tidak amannya anak-anak Indonesia. Bahkan di rumah dan sekolah, tempat yang seharusnya menjadi syurga bagi mereka.

Rumah dan Sekolah, apa yang kita bayangkan saat menyebut dan mendengar dua kata ini?. Rumah dan Sekolah, apa yang anak-anak kita bayangkan saat menyebut dan mendengar dua kata ini?. Adakah dua tempat ini menjadi sumber harapan kebaikan masa depan?, adakah dua tempat ini masih menjadi syurga bagi anak-anak kita?. Masihkah gambaran lagu-lagu tempo dulu menjadi isi gambaran mental saat kita membayangkan dua tempat ini?

 

“Guruku Tersayang, Guru Tercinta”

Pagiku cerahku.

Matahari bersinar.

Kugendong tas merahku di pundak.

Selamat pagi semua.

Kunantikan dirimu.

Di depan kelasmu.

Menantikan kami

 

Ref:

Guruku tersayang

Guru tercinta

Tanpamu apa jadinya aku

Tak bisa baca tulis

Mengerti banyak hal

Guruku terimakasihku

Nyatanya diriku

Kadang buatmu marah

Namun segala ma’af

Kau berikan

 

            “Pergi Belajar” 

Oh ibu dan ayah selamat pagi

Kupergi sekolah sampai kan nanti

Selamat belajar Nak penuh semangat

Rajinlah selalu tentu kau dapat

Hormati gurumu sayangi teman

Itulah tandanya kau murid budiman.

 

Seperti itukah bayangan tentang lingkungan rumah dan sekolah dalam benak kita dan anak-anak kita?. Suasana belajar yang aman dan menyenangkan, perhatian, penghargaan, pengertian, semangat, kerjasama, cinta dan kasih sayang mengiringi berbagai aktifitas yang mengalir di dalamnya?.  Atau gambaran sekolah dan rumah seperti dalam sinetron-sinetron anak dan remaja yang penuh dengan tayangan  kekerasan, intrik, tipu muslihat, bullying,  dan ekploitasi antar sesama, yang menghantar banyak kasus memiriskan?.  Kita bersama yang menentukan arahnya. Kita yang di rumah, kita yang di sekolah, kita yang di pemerintahan, kita yang di legislatif, kita yang di pengadilan, kita yang di pasar, kita yang di masjid dan tempat ibadah, ya kita semua. Karena kita pastilah satu di antara dua atau kedua-duanya : ANAK dan atau ORANG TUA. Menjadi tanggung jawab bersama untuk mewujudkan lingkungan hidup yang aman, kondusif, menumbuhkembangkan potensi, menjungjung tinggi martabat kemanusiaan dan mengekspresikan potensi tertinggi sebagai makhluk Tuhan , sebagai pemimpin di muka bumi.  

Sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat hakikatnya semua adalah sekolah bagi anak. Dari rumah, sekolah dan lingkungan tempat hidup lah anak-anak belajar, meningkatkan pengetahuan, mengembangkan kepribadian, menempa sikap dan menambah kemahiran serta keterampilan. Karena ketiga lingkungan tersebut adalah ‘sekolah’ bagi anak, maka guru-guru di ‘sekolah’ tersebut haruslah sadar, peka, berperan serta bertanggungjawab terhadap hasil pendidikan anak-anak yang menjadi ‘siswa’ nya. Dalam kesempatan kali ini, kita akan lebih fokus pada dua ‘Guru’ dalam dua lingkungan, yaitu ‘Guru Sekolah’ dan ‘Guru Rumah’.

 

RUMAH YANG SEKOLAH; SEKOLAH YANG RUMAH

Sebuah sekolah memiliki jargon : “Seasyik belajar di rumah”. Sebuah rumah memiliki jargon : “Rumahku, madrasahku”.  Apa yang kita pikirkan dari kedua jargon tersebut? dan apa yang terjadi jika orang tua dan guru mengakomodir nilai-nilai yang tersimpan di dalam jargon tersebut?. Sebuah ketersijalinan dan keterhubungan yang memadukan dua kutub lingkungan belajar, yaitu rumah dan sekolah. Ada suasana ‘at home’ yag dibangun di sekolah, dan ada suasana ‘belajar’ yang akrab di rumah. Anak-anak secara cerdas merasakan energi belajar, tumbuh dan berkembang dalam lingkungan tempat ia tinggal, rumah dan sekolah.

Pada dasarnya tanggungjawab pendidikan anak-anak yang pertama dan utama adalah di rumah dengan guru istimewa, yakni orang tua. Rumah lah tempat pertama kali nilai-nilai pendidikan tersemai. Anak-anak baru mengenal lebih luas lingkungan sosial di luar rumah ketika mereka menginjak usia sekolah dasar. Karenanya, memilih sekolah dengan cermat dan jeli menjadi kewajiban orang tua pula. Setelah mendapatkan sekolah yang terpercaya untuk mendidik anak-anak, orang tua tetap memiliki tanggungjawab untuk berkolaborasi dengan lingkungan baru mereka yang bernama sekolah untuk melanjutkan perjalanan pendidikan.

Rumah dan sekolah dapat berkolaborasi, bersijalin dan saling terhubung dalam  menumbuhkembangkan seluruh aspek perkembangan anak, mulai dari perkembangan fisik, kognitif, emosi, sosial, bahasa dan moral-spiritual. Beberapa hal prinsip dalam pendidikan anak adalah bagaimana rumah dan sekolah dapat menjadi tempat belajar yang membawa anak pada perubahan yang semakin positif. Empat pilar pendidikan menurut Unesco dapat menjadi rujukan proses pembelajaran baik di rumah maupun di sekolah, yaitu : pertama, Learning to know, bagaimana proses pembelajaran membuat anak lebih dari sekedar mengetahui, mengingat materi yang diberikan, namun juga memahami makna di balik materi yang mereka terima. Belajar diarahkan agar anak memiliki pengetahuan, mampu beradaptasi, dan memberikan nilai tambah. Proses pebelajaran memungkinkan anak bukan sekedar memperoleh pengetahuan namun menguasai teknik memperoleh pengetahuan. Kedua, learning to do, proses ini memungkinkan anak untuk action in thinking, learning by doing. Anak belajar bagaimana memperbaiki kerja-kerja mereka, dan mengembangkan teori yang mereka miliki. Proses pembelajaran yang dilakukan mulai dari menggali dan menemukan informasi, mengolah informasi dan mengambil keputusan hingga memecahkan masalah secara kreatif. Ketiga, Learning to live together, proses ini menuntun anak untuk hidup bermasyarakat dan menjadi insan terdidik yang bermanfaat bagi diri dan lingkungan. Proses ini menjadi penting, terlebih merespon dunia yang penuh konflik. Kehidupan yang damai menjadi tanggungjawab bersama dan mengalir dalam proses pendidikan di rumah dan di sekolah. Keempat, learning to be, belajar untuk dapat mandiri, menjadi pribadi yang bertanggungjawab untuk mewujudkan tujuan bersama. Proses belajar selayaknya menumbuhkan motivasi, mendorong rasa ingin tau, dan memotivasi untuk berfikir kreatif.

Tegaknya keempat pilar pendidikan di atas  menuntut peran dan kerjasama guru rumah dan sekolah. Banyak hal menarik dapat dikembangkan bersama oleh orang tua dan guru, untuk menghantarkan anak menuju perubahan yang lebih baik sebagai hasil belajar di sekolah dan di rumah. Beberapa upaya kerjasama yang dapat dilakukan guru dan orang tua adalah :

  1. Membangun kesepahaman bersama tentang pendidikan anak antara orang tua dan guru. Bertukar visi dan misi pendidikan anak anatara sekolah dan rumah menjadi isyu penting yang perlu difasilitasi dalam program dan kegiatan yang riil.
  2. Penyelarasan kesepahaman dari waktu ke waktu secara periodik melalui kegiatan temu orang tua dan guru sehingga tujuan dapat terkawal dan terevaluasi dengan lebih jelas dan terarah
  3. Sama-sama berperan sebagai pengembang proses pembelajaran bagi anak, bagaimana agar proses belajar anak dapat memberikan nilai tambah dan nilai ganda bagi pengembangan karekternya. Empat pilar pendidikan di atas perlu diejawantahkan dalam pendidikan di rumah dan di sekolah. orang tua perlu tau kurikulum belajar anak, dan dapat diadaptasi dalam ‘kurikulum’ belajar di rumah.
  4. Sama-sama berperan sebagai pengamat dan pengembang kepribadian anak. Dalam hal ini, dibutuhkan saling berkomunikasi dan bertukar informasianatara guru dan orang tua. Perlu terbangunketerbukaan dan kerjasama positif, terkait perkembangan anak di rumah maupun sekolah, kendala, hambatan, kelebihan, bakat, potensi yang meruapakan hasil temuan dan amatan masing-masing pihak.
  5. Sama-sama berperan sebagai motivator di lingkungan belajar masing-masing, di rumah, dan di sekolah. Untuk itu orang tua perlu tau secara umum materi belajar anak, perasaan-perasaan anak terhadap materi belajar, juga terhadap guru dan teman.Sekolah juga perlu menginformasikan hal-hal yang sekiranya dapat meningkatkan efektifitas keduanya dalam memotivasi anak. Motivasi dapat diberikan secara intrinsik dan ekstrinsik, dengan mempertimbangkan peningkatan motivasi yang semakin intrinsik.
  6. Sama-sama berperan sebagai evaluator pembelajaran. Yang lebih dipentingkan dalam peran ini, bagaimana orang tua dan guru peka terhadap peningkatan-peningkatan performansi belajar anak dan saling bertukar informasi serta mengembangkan strategi-strategi yang lebih efektif untuk perubahan anak ke arah yang lebih baik.
  7. Saling mendoakan. Guru, orang tua dan bahkan anak layak tersijalin dalam kekuatan doa dan niat baik di antara mereka. Keterhubungan spiritual semacam ini akan mengokohkan keyakinan, meningkatkan iklim kondusif dan tentu berdampak besar bagi pencapaian tujuan bersama.
  8. Bersama menciptakan komunitas belajar yang semakin luas dengan melibatkan lebih banyak orang tua, guru dan bahkan masyarakat di lingkungan. Hal ini akan berdampak luas bagi tujuan pendidikan yang lebih jauh.

 

PENUTUP  

Tentu masih banyak ide menarik lain untuk menjalin kerjasama rumah dan sekolah, kita akan mendiskusikannya lebih jauh dalam forum ini. Setidaknya delapan poin di atas dapat menjadi stimulan diskusi kita selanjutnya. Bayangkan jika guru rumah dan sekolah berperan dan berfungsi optimal, tidakkah masa depan pendidikan akan lebih cerah? tidakkah masa depan bangsa akan lebih bercahaya?. Kita semua bertanggungjawab menentukan arah pendidikan, menentukan outcome proses pendidikan.  Terlalu mahal biaya pendidikan jika hanya untuk melahirkan pribadi yang sekedar tau dan memiliki pengetahuan. Pendidikan selayaknya mencerdaskan aspek spiritualitas yang menghubungkan mereka dengan nilai-nilai pertanggungjawaban kepada sang pemberi mandat hidup, Allah SWT. Sepantasnya pendidikan melahirkan calon-calon pemimpin yang cerdas, terampil, mahir, sehat dan berkarakter. Biarkan anak-anak mengerti bahwa menjadi orang penting itu baik, dan menjadi orang baik itu lebih penting. Bagaimana kalau di antara mereka adalah anak-anak kita?. Selamat berperan dan berfungsi sebagai guru rumah dan sekolah yang semakin handal dan mahir.

 

Tulisan ini pernah disampaikan pada seminar bagi orangtua-guru SDIT …

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top