Self Compassion: Cara Mengasihi Diri Ketika Mengalami Kegagalan

Kegagalan dan penderitaan adalah hal yang dialami oleh setiap manusia. Hal itu akan selalu ditemui karena kegagalan merupakan salah satu proses yang harus dilalui dalam hidup. Tidak ada satu pun manusia yang tidak pernah gagal, setiap orang pasti mengalami kegagalan dalam bentuk dan rupanya masing-masing. Namun, seringkali ketika kita mengalami kegagalan, perasaan yang muncul adalah rasa marah, sedih, menyalahkan diri sendiri, menganggap diri tidak berharga, dan menganggap hanya “aku”-lah yang merasakannya. Padahal, jika kita mau menyadari, kegagalan dialami oleh setiap manusia. Tetapi perasaan “hanya aku” yang menderita dan gagal sering terjadi ketika mengalami suatu peristiwa yang tidak sesuai harapan kita.

Perasaan “hanya aku” wajar dirasakan oleh seseorang yang tengah mengalami peristiwa buruk dalam hidupnya. Karena kondisi seperti itu membuat seseorang cenderung didominasi oleh pikiran-pikiran negatif. Pikiran-pikiran negatif ini seringkali menggiring perasaan kita untuk mempercayai bahwa diri kita lah satu-satunya orang yang menderita. Kemudian diikuti juga dengan perasaan menyalahkan diri sendiri karena kegagalan yang dialami. Menganggap diri sendiri tidak kompeten dan tidak pantas untuk menggapai sesuatu yang diharapkan. Tidak jarang, hal ini berujung pada perasaan membenci diri sendiri.

Perasaan membenci diri sendiri membuat kita berlaku kasar dan keras terhadap diri sendiri, sehingga kurang mampu memperlakukan diri sendiri dengan baik. Akhirnya kita terbelenggu dalam perasaan bahwa diri ini tidak pantas untuk dikasihani, tetapi justru pantas dibenci. Perasaan-perasaan tersebut akan membuat terciptanya penderitaan dalam diri kita yang pada akhirnya membuat kita semakin merasa sengsara. Jika dibiarkan berlarut-larut, hal ini dapat menimbulkan dampak negatif dalam diri. Seperti self-harm atau menyakiti diri sendiri, hingga sampai kepada tindakan bunuh diri. Bentuk-bentuk perilaku tersebut adalah sebuah pelarian diri dari rasa penderitaan yang tengah dirasakan.

Self compassion hadir sebagai suatu konsep untuk tetap berbaik hati kepada diri sendiri dalam keadaan yang tidak menyenangkan bagi kita. Apa sih self compassion itu? Kristin Neff, salah satu peneliti self compassion yang cukup terkenal menggambarkan self compassion sebagai cara yang sehat untuk berhubungan dengan diri sendiri. Self compassion dapat diartikan sebagai bentuk kebaikan terhadap diri sendiri saat mengalami kegagalan, penderitaan, maupun kesalahan. Self compassion seperti, “aku tahu bahwa kamu sudah mencoba yang terbaik, tetapi hidup itu sulit dan kamu tidak selalu dapat melakukan suatu hal dengan benar, karena kamu hanya manusia.”  Ungkapan sadar seperti ini menunjukkan kesadaran kita bahwa kegagalan dan penderitaan adalah hal yang biasa terjadi dalam kehidupan, karena kita hanya manusia biasa yang tidak sempurna.

Ada berbagai dampak positif yang dihasilkan ketika kita memiliki self compassion. Apa saja sih dampaknya?

Resiliensi emosi

Self compassion membuat kita terbebas dari siklus destruktif atau reaktivitas emosional yang seringkali berpengaruh terhadap kehidupan kita, menciptakan ketahanan emosional dan meningkatkan kesejahteraan. Ketika seseorang memiliki self compassion, pikiran otomatis yang sering muncul pada situasi negatif akan tereduksi. Bukan berarti emosi negatif dapat langsung tergantikan oleh emosi positif, tetapi dengan cara memeluk emosi negatif yang ada, yakni memandang sebuah emosi dan pemikiran negatif secara lebih objektif. Merasakan emosi yang menyakitkan dan menghadapinya dengan self compassion membuat kita tidak mengelak emosi yang sedang kita rasakan, tetapi justru merasa nyaman menghadapi pikiran, perasaan, dan sensasi dari apa yang sedang terjadi pada diri kita.

Menyadari keadaan yang sesungguhnya

Self compassion membuat kita menyadari fakta bahwa semua manusia memiliki kekuatan dan kelemahan. Memahami fakta seperti ini menjadikan kita tidak terjebak dalam belenggu bahwa seseorang harus selalu merasa baik. Kesadaran akan pengalaman saat ini membuat kita tahu bahwa keadaan akan terus berubah dan tidak kekal. Artinya kita tidak akan selalu merasa bahagia, dan tentunya tidak selamanya akan merasa sedih.  

Motivasi dan pengembangan diri

Rasa welas asih terhadap diri merupakan salah satu dukungan positif yang dapat kita berikan terhadap diri kita yang tengah mengalami keterpurukan. Hal itu dapat mendorong dan menumbuhkan keyakinan terhadap diri sendiri untuk mendapatkan pencapaian tertinggi setelah mengalami sebuah kegagalan. Selain itu, dukungan positif dari diri sendiri mampu mendorong kita untuk berorientasi pada pengembangan diri.

 

Pada akhirnya kita dapat menyadari bahwa kegagalan dan penderitaan adalah bagian dari proses hidup yang harus dijalani. Karena tidak setiap rencana dan kemauan kita dapat tercapai. Sehingga kita diharapkan untuk mampu melewati peristiwa-peristiwa tersebut dengan tetap mencintai diri sendiri.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top