Seni menerapkan aturan untuk anak

Penulis : Pihasniwati, S.Psi., Psi., MA.

Pusat Psikologi Terapan Metamorfosa 

Jln. Parangtritis Km.09, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta

 

“Fia, maaf, Ibu tidak suka kamu berteriak dan berkata dengan nada marah-marah seperti itu, tidak enak di hati”, Kata Ibu tegas saat Fia merespon dengan respon spontannya. Fia sempat terdiam, lantas berujar  “Ya, aku itu lagi serius Bu…lagi nggak mau diganggu, Ibu juga begitu kalau lagi serius dan nggak mau diganggu”, Ungkapnya.

Nah, sambil membaca cuplikan dialog di atas, ingatan kita melayang pada entah berapa banyak aturan-aturan tertulis dan tak tertulis yang coba kita kenalkan dan terapkan di rumah. Mulai dari aturan terkait disiplin harian, aturan menggunakan telepon, aturan sopan santun, berpakaian, makan, jam belajar, sikap terhadap saudara kandung dan sebagainya. Mulai dari aturan normatif yang dituangkan dalam tulisan sampai aturan yang mewujud dalam bentuk harapan yang diobrolkan. Apa pun itu, di dalamnya tentu ada maksud baik kita para orang tua. Anak-anak sesungguhnya sangat membutuhkan aturan-aturan yang justru dengan aturan main tersebut dapat menjadi landasan moral dan bersikap, ini penting untuk memberikan landasan rasa aman, kepastian hingga penyiapan agar mereka dapat lebih mampu menyesuaikan diri dengan harapan sosial di tengah kehidupan sosial yang lebih luas. Dari rumahlah mereka selayaknya belajar mengenai miniatur keter’atur’an hidup. Sehingga mereka lebih siap memainkan peran-perannya dengan lebih optimal di lingkungan sosial yang lebih luas, misalnya sekolah, kelompok belajar, organisasi, asrama, hingga spektrum sosial lain yang lebih kompleks.  Lebih dari itu, sebagai keluarga muslim kita dianugerahi Allah dengan syariat dan aturan-aturan Islam, yang sepatutnya menjadi landasan moral dan bersikap anak-anak kita sekarang dan di masa depan, sesuai dengan kadar tanggungjawab yang mereka miliki pada tahapan usia tertentu. Wow, jika begitu, sungguh istimewa menjadi mitra pendidik anak-anak untuk membiasakan diri dengan atauran dan mencintai aturan yang memuliakan.

Di atas kesadaran tentang semua itu, tampaknya kita layak menyempurnakan proses mengenalkan, memahamkan dan membuat anak-anak menerima dan menjalankan aturan agar berdampak semakin positif bagi perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan. Saya teringat salah satu konsep dan model pengasuhan Diana Baumrind, menurutnya pola pengasuhan yang ideal untuk perkembangan anak yang sehat kepribadiannya adalah pola pengasuhan authoritative. Pola pengasuhan ini sangat erat hubungannya dengan bagaimana cara kita menerapkan aturan dalam kelurga. Menurutnya, dalam pengasuhan authoritative anak dan orang tua sama-sama memiliki hak dan kewajiban yang seimbang, saling melengkapi satu sama lain, secara bertahap orang tua melatih anak untuk bertanggungjawab dan menentukan tingkah lakunya sendiri menuju kedewasaan, membiasakan iklim dialogis dalam menentukan sikap, mendorong untuk saling membantu dan bertindak secara obyektif, orangtua cenderung tegas dengan tetap  hangat dan penuh perhatian. Nah, dengan atmosfer pengasuhan semacam ini diharapkan terciptanya sikap pro-aturan yang tetap memberikan ruang kreatif, percaya diri, mandiri, ramah dan bahagia bagi anak.

Menyadari harapan kita agar dapat semakin kompeten dalam mendampingi anak-anak mengatur diri dan kehidupan mereka, tampaknya penting bagi kita untuk bersikap tegas namun tetap hangat. Semisal, aturan dalam jam tayang televisi, jika pada jam tertentu TV harus off, maka konsisten dan tegaslah, minta anak mematikan TV atau orang tua dapat membantu mematikan TV dan katakan “Saatnya sholat Magrib dan kita tau apa aturan yang sudah kita sepakati”. Hal lain adalah, dialogkan aturan dalam standar yang dapat disepakati bersama dan tunjukan keyakinan yang konsisten terhadap kemampuan anak untuk memenuhi aturan standar tersebut. Semisal, berapa lama durasi waktu belajar di rumah yang nyaman bagi anak, kita dapat bersikap luwes soal durasi belajar, pada saatnya anak akan menambah jam durasinya jika ia merasa ia tidak lagi sesuai dengan kebutuhannya. Berikan apresiasi dan tunjukkan penghargaan akan kemampuannya menetapi aturan standar yang disepakati. Evaluasi bersama jika aturan tersebut membutuhkan penyesuaian dengan kondisi terkini. Semisal, saat menjelang ujian akhir semester atau UAN. Ingat untuk memberikan ruang dialog dan memilih yang yang menjadi jalan perkembangan otonomi dan kemandiriannya dalam mengarahkan diri, ini penting untuk kepribadiannya yang semakin matang dan bertanggungjawab. Sesekali, biarkan anak merasakan akibat atau konsekuensi dari keteledorannya yang dapat menjadi bahan diskusi dan evaluasi bersama.

Nah, kembali ke sepenggal dialog di atas, akhirnya kita semakin menyadari pentingnya menyeimbangkan daya harap dan daya tanggap kita dalam mendampingi anak menetapi aturan. Aturan dapat menjadi jalan pencerdasan moral, sosial dan emosional anak, dan sebaliknya aturan dapat memberikan resiko buruk bagi perkembangan mentalnya. Silahkan berharap agar anak dapat mengenal, memahami dan menepati aturan-aturan yang ada, namun ingat, kita juga perlu tanggap dengan perasaan, pemikiran, dan kemampuannya. Terakhir, saling mendoakan dan bekerjasama agar kita dapat bergandeng tangan melahirkan komunitas cerdas-salih yang didamba umat.

 

Catatan : Tulisan ini pernah dimuat di majalah PELANGI edisi 2013 terbitan SDIT Ar Rayhan Bantul 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top