Sering Belanja? Jangan-jangan Kamu Mengalami Ini

 

 

 

Apakah kalian gemar berbelanja? Tentunya sebagian dari kita akan menjawab iya. Apalagi di zaman dengan segala kemudahan ini, kita dapat berbelanja dengan mudah tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Kita dapat berbelanja berbagai barang cukup melalui layar ponsel. Tapi, tahukah kalian? Ada salah satu gangguan psikologis yang terkait dengan kebiasaan berbelanja, yakni Compulsive Buying Disorder (CBD). Apa yang dimaksud dengan Compulsive Buying Disorder? Menurut World Psychiatric Association, CBD adalah kondisi psikologis kronik yang ditandai dengan adanya  hasrat berulang-ulang (kecanduan) untuk membeli barang atau jasa maupun sesuatu yang spesifik, misalnya pakaian.

Seorang penderita CBD akan merasa kurang nyaman dan gelisah apabila tidak berbelanja dalam kurun waktu tertentu, timbul gangguan emosional, stress, bahkan hingga depresi. CBD dapat menyerang siapa saja, entah itu penggemar belanja online maupun offline. Namun, risiko CBD lebih tinggi pada penggemar belanja online. Penggemar belanja online bisa mengalaminya secara perlahan tanpa mereka sadari, dan biasanya didahului oleh sifat konsumtif atau boros. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa penderita CBD umumnya adalah wanita, tetapi seiring perkembangan digital, kemungkinan CBD juga akan meningkat pada laki-laki.

Lalu, apa indikator yang menunjukkan seseorang sedang mengalami CBD? (dikutip dari Psychology Today)

  1. Pembelian secara impulsif

Pembeli yang kompulsif seringkali membeli barang-barang berdasarkan dorongan hati atau kemauan semata, tanpa mempertimbangkan apakah barang itu dibutuhkan atau tidak. Mereka juga seringkali menyembunyikan kebiasaaanya itu.

  1. Merasakan kegembiraan ketika berbelanja

Pembeli yang kompulsif merasakan kegembiraan ketika mereka membeli, rasa gembira ini bukan berasal dari memiliki sesuatu tetapi dari tindakan membelinya. Deru kegembiraan ini seringkali dialami ketika mereka melihat barang yang diinginkan dan tidak mempertimbangkan untuk membelinya. Bahayanya, kegembiraan ini dapat menjadi kecanduan.

  1. Belanja merupakan kegiatan yang menyenangkan dan dapat mengurangi emosi negatif

Berbelanja secara kompulsif adalah upaya untuk mengisi kekosongan emosional, seperti kesepian, kurangnya kontrol, atau kurangnya harga diri. Seringkali, suasana hati yang negatif, seperti pertengkaran atau frustrasi memicu keinginan untuk berbelanja.

  1. Munculnya perasaan bersalah dan menyesal setelah berbelanja

Ada kalanya pembelian diikuti oleh perasaan menyesal. Mereka merasa bersalah dan tidak bertanggung jawab atas pembelian yang mereka anggap sebagai kesenangan. Hal ini dapat terjadi akibat adanya penurunan emosi negatif yang bersifat sementara dan digantikan oleh peningkatan kecemasan atau rasa bersalah setelah membeli barang.

 

Memahami indikator yang menunjukkan seseorang sedang mengalami CBD merupakan satu langkah awal untuk menghindarkan diri dari jerat compulsive buying. Kunci untuk menghindari CBD terletak pada pengendalian diri (self control). Kontrol diri (self control) adalah kemampuan individu untuk mengarahkan tingkah lakunya sendiri, atau kemampuan seseorang untuk menekan atau menghambat dorongan yang ada. Dalam kaitannya dengan CBD, kita harus mampu untuk mengontrol diri kita dalam berbelanja, dengan menahan keinginan berbelanja barang-barang yang sekiranya memang tidak kita perlukan. Selain itu, kita juga dapat menyiasati dengan berbelanja menggunakan uang tunai. Sebisa mungkin hindari berbelanja dengan kartu kredit. Kekuatan psikologis utama dari kartu kredit adalah memisahkan kesenangan saat membeli dari rasa sakit ketika membayar. Kartu kredit mengarahkan kita untuk berpikir tentang aspek positif dari pembelian. Sehingga membayar dengan uang tunai akan terasa lebih menyakitkan daripada membayar dengan kartu kredit. Sedangkan bagi kamu yang sudah merasa terganggu dengan kebiasaan berbelanja dan merasa kebiasaan itu berada di luar batas wajar, sebaiknya segera datang untuk berkonsultasi kepada orang yang tepat, bisa ke Psikiater atau Psikolog yaa..

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top