TEORI CINTA DALAM KEHARMONISAN RUMAH TANGGA

Keharmonisan keluarga sering dikaitkan dengan potensi hubungan cinta, karena cinta adalah dasar dari pernikahan. Menurut Zakia, pernikahan biasanya terkait dengan hubungan formal antara dua orang, seorang pria dan seorang wanita, berdasarkan perasaan cinta. Dalam pernikahan yang ideal, ia menyediakan sumber baru keintiman, komitmen, persahabatan, kasih sayang, kepuasan kebutuhan seksual, pertumbuhan emosional, dan identitas serta harga diri.

Menurut Sternberg cinta terdiri dari tiga komponen yang dikenal dengan Triangular Theory of Love  yakni:

  1. Keintiman: Komponen emosi, yang di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust) dan keinginan untuk membina hubungan. Seseorang akan merasa dekat dengan seseorang, senang bercakap-cakap dengannya sampai waktu yang lama, merasa rindu bila lama tidak bertemu, dan ada keinginan untuk bergandengan tangan atau saling merangkul bahu.
  2. Gairah: Komponen motivasional yang didasari oleh dorongan dari dalam diri yang bersifat seksual. Hasil temuan ini mengungkapkan bahwa melakukan hubungan seks dapat meningkatkan kedekatan pasangan baik secara fisik dan emosi.
  3. Komitmen: Komponen kognitif, berupa keputusan untuk secara sinambung dan tetap menjalankan suatu kehidupan bersama. Hasil temuan mengungkapkan bahwa
    mempertahankan hubungan agar tetap langgeng dengan cara berdoa, percaya kepada
    pasangan, bercerita dan jujur atau terbuka dengan pasangan dalam keadaan apapun.

 

Keberhasilan pernikahan yang utama berkaitan dengan komponen intim, hasrat dan
komitmen dari cinta, dikarenakan ke tiga komponen tersebut merupakan hal yang paling penting dalam proses untuk mengembangkan hubungan pernikahan yang dapat bertahan. Namun ditemukan juga bahwa selain ke tiga komponen tersebut ada hal lain yang dapat
membangun keharmonisan dalam rumah tangga. Yaitu sebagai orang beriman dengan
mempercayai Tuhan.

Keharmonisan didasarkan pada komponen keintiman pasangan
suami-istri, yang tidak dekat secara fisik dan psikis maka keharmonisannya tidak dapat
dibangun. Begitupun juga dengan komponen hasrat, dalam sebuah rumah tangga tidak
memiliki hasrat satu dengan lain, tidak memiliki keinginan untuk melakukan hubungan seksual dengan baik maka keharmonisan akan menjadi hambar. Dan dalam sebuah rumah tangga juga dibutuhkan komponen komitmen, yaitu komitmen dalam menjaga keharmonisan, komitmen untuk tetap menjaga cinta kepada pasangan, komitmen untuk saling mempertahankan hubungan dalam rumah tangga.

Namun kenyataannya dalam rumah tangga tentu mengalami permasalahan-permasalahan yang dapat merusak keharmonisan seperti percekcokan antara suami dan istri dalam hal mengurus anak, mengurus makan-minum, menyatukan pendapat, tempat tinggal yang berbeda atau hubungan jarak jauh karena pekerjaan, masalah komunikasi yang kurang. Dari masalah masalah yang dialami tersebut sehingga diperlukan ke tiga kompenen teori cinta agar dapat membantu mempertahankan keharmonisan dalam sebuah rumah tangga.

 

REFERENSI

Sanu, D. K., & Taneo, J. (2020). ANALISIS TEORI CINTA STERNBERG DALAM KEHARMONISAN RUMAH TANGGA. JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan), 7(02), 193-209

Setiawan, Y. (2014). Kesempurnaan Cinta dan Tipe Kepribadian Kode Warna. PERSONA: Jurnal Psikologi Indonesia, 3(01).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top