Yuk, Kenali Agresi dan Cara Menguranginya

Dalam interaksi antar manusia di kehidupan sehari-hari, apa pun bisa terjadi. Dari mulai interaksi yang bersifat positif dan saling menguntungkan, hingga ketidaksepahaman, gesekan, konflik, hingga agresi yang cenderung berdampak negatif. Terkhusus pada poin terakhir yaitu agresi, hal itu sudah menjadi peristiwa yang wajar dan mungkin dialami oleh semua individu, termasuk anda. Sebagai contoh, di pagi hari yang sibuk saat kita hendak berangkat kerja dan terjebak macet, tiba-tiba ada salah seorang pengendara motor di kemacetan tersebut yang menekan tombol klakson berulang-ulang tanpa terkendali karena tidak sabar menunggu. Tak hanya sampai di situ, pengendara motor itu juga berteriak-teriak memaki pengendara lain yang dianggapnya menyebabkan kemacetan itu. Peristiwa itu merupakan contoh agresi.
Seorang ilmuwan terkemuka bernama Berkowitz menjabarkan agresi sebagai segala bentuk perilaku yang diarahkan pada tujuan untuk merugikan, merusak, menggangu, berbuat jahat atau melukai makhluk hidup, yang mana makhluk hidup itu tidak menginginkan perilaku itu. Agresi juga dapat diartikan tindakan yang bersifat melukai oleh seseorang/institusi terhadap orang/institusi lain yang disengaja.
Agresi dapat terjadi ketika seseorang mengalami kondisi emosi tertentu yang bersifat negatif, termasuk di antaranya adalah emosi marah (anger). Beberapa ilmuwan juga mengungkapkan bahwa agresi memiliki hubungan dengan rasa frustasi. Rasa frustasi itu umumnya disebabkan oleh terhambatnya suatu individu dalam memenuhi atau mencapai tujuan dalam hidupnya. Selain itu sebab lain yang dapat memicu timbulnya agresi adalah pengaruh sosial, personal, kebudayaan, situasional, sumber daya dan bahkan media massa.
Pencetus lain dari agresi adalah adanya provokasi. Provokasi menyebabkan individu untuk menanggapi dengan perbuatan yang sepadan atau bahkan melebihi apa yang telah diterimanya. Bisa dibayangkan apabila seseorang berbuat kekerasan pada seseorang, maka orang yang mendapat perilaku itu akan marah dan bisa menimbulkan perilaku kekerasan yang sama. Dampak dari agresi ini bisa cukup kuat, utamanya berpengaruh pada renggangnya hubungan sosial antara satu individu dengan individu lainnya. Dampak lain adalah kerugian fisik dan materil seperti luka-luka, rusaknya suatu asset atau barang, dan sebagainya. Bahkan jika sampai menyangkut golongan, agresi ini bisa memicu konflik antar ras dan kelompok etnik yang menyebabkan pertumpahan darah.

Jika ditinjau dari dampaknya, agresi ini terlihat begitu menakutkan dan dahsyat. Padahal, ada sebuah cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk mencegah terjadinya agresi. Cara itu adalah dengan mengamalkan nilai-nilai forgiveness. Forgiveness sendiri dikenal pula dengan istilah pemaafan. Pemaafan ini dimaknai sebagai suatu proses di mana korban dari suatu tindakan merugikan, secara sengaja mengalami perubahaan pada aspek perasaan dan sikap terhadap tindakan ofensif yang dialaminya, sehingga korban mampu merelakan emosi-emosi negatif seperti dendam dan amarah. Tidak hanya sampai di situ, pemaafan ini juga memungkinkan korban untuk memberikan doa-doa yang baik bagi orang yang telah menyakitinya.
Melalui pemaafan ini, kita menyadari bahwa tidak ada kebermanfaatan yang datang dari pembalasan dendam atas sebuah perbuatan buruk. Pada dasarnya, satu-satunya hal yang akan muncul dari sebuah pembalasan dendam adalah dendam-dendam baru yang nantinya akan kembali mencelakakan kita, layaknya mata rantai yang tidak berkesudahan. Pemaafan ini memberi kita kekuatan dan kesadaran untuk memutus mata rantai itu dan mencegah hal-hal buruk lainnya terjadi di masa depan.
Agresi memang tak terhindarkan dalam kehidupan kita. Ia akan terus ada dan membayangi langkah demi langkah yang kita ambil dalam kehidupan kita. Namun melalui pemaafan, kita dikaruniai sedikit ruang lagi dalam hati kita untuk menampung rasa sakit itu dan kemudian melepaskannya. Seiring hati kita memaafkan kesalahan orang lain, cahaya dalam hati kita juga akan bertambah besar dan terang, sehingga tidak ada lagi ruang bagi kebencian untuk hinggap di dalamnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top