YUK, KENALI GEJALA – GEJALA STRES KERJA PADA KARYAWAN

          Stres kerja merupakan perasaan yang menekan atau merasa tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan. Stres kerja dapat muncul sewaktu-waktu dan hampir setiap orang mengalaminya di tempat kerja, terlebih lagi dengan banyaknya pekerjaan kantor yang menumpuk yang harus segera diselesaikan. Namun, kadar stres pada setiap orang berbeda-beda dan hal tersebut tergantung pada stresor yang dihadapinya. Stres kerja bisa tampak dari beberapa gejala seperti emosi yang tidak stabil, perasaan tidak tenang, suka mengurung diri, sulit tidur, tidak bisa rileks, cemas, gugup, tekanan darah meningkat dan mengalami gangguan pencernaan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa 40% dari karyawan mengalami kesulitan tidur akibat stres kerja sepanjang tahun 2018. Apabila karyawan yang bersangkutan tidak dapat beristirahat dengan baik dapat berpengaruh terhadap produktivitasnya selama di tempat kerja. Untuk itu, ketika stres kerja mulai muncul alangkah lebih baiknya para karyawan mengevaluasi kembali keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga serta melakukan beberapa perubahan untuk menghindari menurunnya kinerja pada karyawan. Untuk melakukan evaluasi kehidupan di lingkungan kerja, kenali beberapa gejala stres di tempat kerja, diantaranya:

  1. Sulit berkonsentrasi. Gejala awal yang biasanya ditunjukkan oleh karyawan yang mengalami stres kerja adalah sulit untuk berkonsentrasi, terlebih lagi untuk jangka waktu yang cukup panjang. Biasanya hal tersebut akan berdampak pada penurunan kinerja dari karyawan tersebut. Sehingga, tidak jarang karyawan yang mengalami stres kerja akan membuat kesalahan pada pekerjaan kantor yang tergolong mudah diselesaikan. Beberapa dari karyawan bahkan tidak bisa memenuhi deadline yang telah diberikan oleh atasan. Adapun cara mengatasi stres kerja seperti ini dapat dimulai dari pendekatan secara personal kepada karyawan yang bersangkutan. Biasanya, stres kerja akan lebih mudah menyerang pribadi yang tertutup dan sulit mengutarakan isi hatinya. Maka dari itu, cobalah ajak mereka berbicara dan jadilah pendengar yang baik, tetapi jangan langsung membahas tentang kemungkinan stres yang menimpanya. Namun, jika ternyata masalah yang muncul dipicu oleh sistem kerja atau pendelegasian tugas yang tidak seimbang dari atasan, maka perlu diadakan evaluasi agar mencegah stress kerja pada karyawan lainnya.
  1. Mudah frustasi. Saat sedang dirundung beban kerja yang berkepanjangan, tidak jarang karyawan justru mudah merasa putus asa dan mudah frustrasi atas pekerjaan kantor yang menjadi tanggung jawabnya. Apalagi jika upah yang diterima setiap bulan tidak sesuai dengan jerih payah karyawan yang bersangkutan. Tentu saja hal ini harus segera didiskusikan kembali dengan atasan agar upah yang diberikan dapat sesuai dengan beban pekerjaan yang dilakukannya. Namun, jika ternyata penyebab stres yang terjadi berasal dari dalam diri karyawan itu sendiri, inilah saat yang tepat untuk HR memberikan reward berupa pujian atau pun bonus yang dapat meningkatkan motivasi kerja mereka selama berada di kantor. Dengan begitu, karyawan akan merasa lebih dihargai dan bersemangat dalam menyelesaikan seluruh pekerjaan kantor. Selain itu, bisa juga dengan mengadakan outing kantor seperti di akhir tahun. Kegiatan tersebut tidak hanya dapat merekatkan hubungan antar karyawan supaya lebih kompak, tetapi juga bisa membantu mereka agar lebih fresh sehingga beban kerja dan stres akan terangkat.
  1. Kondisi emosi kurang stabil. Terkadang gejala stres kerja yang dialami karyawan juga ditunjukan dengan kondisi emosi yang kurang stabil. Misalnya, karyawan menjadi mudah tersinggung, marah, atau bahkan sering bermuram diri selama jam kerja. Kelabilan dalam kondisi emosi ini tidak bisa dianggap remeh karena akan berpengaruh pada produktivitas karyawan tersebut dan juga rekan-rekan kerja lainnya. Oleh karena itu, cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi stres kerja dalam hal ini bisa dengan mengadakan stress management training. Pada kegiatan stress management training, karyawan diminta untuk menghadiri kelas-kelas relaksasi dan pelatihan mengenai kemampuan asertif. Melalui pelatihan ini karyawan biasanya akan diberikan beberapa pelajaran mengenai apa itu stres, sumber-sumber stres kerja, dampak stres terhadap kesehatan, dan kemampuan personal yang dapat digunakan untuk mengatasi stres di tempat kerja.
  1. Sering mengajukan cuti sakit. Selain beberapa gejala diatas, stres kerja juga dapat menyebabkan karyawan mengalami insomnia atau sulit tidur di malam hari. Sehingga, tidak heran jika metabolisme dan daya tahan tubuhnya semakin menurun dari hari ke hari. Jika daya tahan tubuhnya sudah semakin parah, tidak heran jika beberapa karyawan tersebut akan sering mengajukan cuti sakit untuk berobat dan beristirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan kantornya. Keadaan ini umumnya dipicu ketika beban kerja yang diterima karyawan tersebut terlalu berat.  Dengan demikian, sebagai HR di perusahaan perlu untuk mengadakan organizational development untuk memperbaiki sistem kerja dan manajemen di dalam perusahaan. Kegiatan ini harus melibatkan karyawan dan atasan secara langsung, karena hal tersebut membutuhkan pengembangan budaya kerja yang lebih suportif dan friendly. Hal ini penting dilakukan sehingga karyawan dapat menyelesaikan pekerjaan kantor secara maksimal dengan suasana kerja yang lebih menyenangkan.

          Untuk dapat benar-benar mengatasi stres kerja yang dialami oleh karyawan, Human Resource harus terlebih dahulu melihat apa yang menjadi sumber stres yang dialami oleh seseorang. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi masalah apa yang sedang dialami oleh karyawan dan hal apa yang menjadi akar permasalahan tersebut. Human Resource bisa mengajak karyawan yang bersangkutan untuk berbicara agar mengetahui apa yang menjadi inti permasalahnya. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan mengapa Human Resource berperan sangat penting dalam berjalannya sebuah perusahaan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top