Yuk, Sama-Sama ‘Mengalahkan’ Depresi!

Depresi adalah hal yang begitu menggoda. Menggoda karena saat seharusnya menjadi musuh besar manusia, pada waktu bersamaan justru menjadi sahabat karib manusia karena ia begitu lekat. Lekat dengan kehidupan kita, gaya hidup kita, keseharian kita, dengan diri kita. Hubungan kita dengan depresi seakan menjadi semakin mesra beberapa dekade terakhir ini. Membuat depresi menjadi penyakit sehari-hari layaknya flu dan gatal-gatal. Akrab dengan kita layaknya kopi hitam dan pisang goreng. Padahal, depresi tidak sesepele itu. Ia jauh, jauh lebih berbahaya dari itu semua, pada tataran di mana ia dapat menuntun seseorang menuju kematian. Lalu mengapa hal yang berbahaya ini begitu lekat dengan kehidupan kita?

Studi yang dilakukan baru-baru ini oleh Social Indicators Research terhadap 7 juta subyek yang tersebar di seluruh penjuru Amerika Serikat, menunjukkan bahwa 38 persen remaja di tahun 2010-an berpotensi cukup besar untuk mengalami hambatan dalam mengingat sesuatu, 74 persen memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan tidur, 50 persen dari seluruh siswa kuliahan melaporkan bahwa mereka merasa kewalahan dalam hidupnya, dan orang dewasa melaporkan bahwa tidur mereka tidak tenang, bahwa nafsu makan mereka menurun, dan cenderung mudah merasa lelah—perlu kita garisbawahi bahwa semua itu adalah gejala-gejala klasik dari depresi (Twenge, 2015).

Masih menurut jurnal penelitian tersebut, semakin meningkatnya jumlah kasus-kasus kesehatan mental terkait depresi tersebut disebabkan oleh tiga karakteristik utama yang lucunya, hampir sama pula dengan karakteristik-karakteristik manusia modern pada umumnya: 1) hubungan antar individu dan kerekatan sosial semakin melemah, 2) kita semakin berfokus pada tujuan-tujuan materiil seperti harta, popularitas, dan citra, dan 3) ekspektasi kita terhadap diri sendiri terlalu tinggi, semisal munculnya pandangan bahwa “kita bisa jadi apapun yang kita mau”, yang pada akhirnya menuntun pada pandangan-pandangan terhadap diri yang terlalu positif dan kurang realistis (Twenge, 2015).

Gambaran tentang jumlah penderita depresi di dunia pada era sekarang, seperti yang diungkapkan oleh Richard Budiman (dokter spesialis jiwa RSJ Dharmawangsa), bahwa tercatat lebih dari 300 juta orang menderita depresi di segala usia di dunia, di mana jumlah itu meningkat 18 persen dari tahun 2005 hingga 2015. Prevalensi penderita adalah 3-8 persen dari total populasi, dengan 50 persen kasus terjadi pada usia produktif, yaitu 20-50 tahun. WHO juga melaporkan bahwa gangguan depresi berada pada urutan keempat penyakit di dunia (Tempo.co, 21 Mei 2017). Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Publikasi hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2013, menunjukkan bahwa prevalensi penderita gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala depresi dan kecemasan di Indonesia adalah sebesar 6 persen dari populasi, atau sekitar 14 juta orang untuk usia  15 tahun ke atas. Hal ini sedikit banyak menggambarkan bahwa Indonesia masih menyumbang begitu banyak jumlah penderita depresi pada prevalensi penderita di seluruh dunia. Depresi masih menjadi musuh besar kita semua.

Terkait dengan tingginya prevalensi depresi, tentunya masih segar di ingatan kita tentang apa yang menimpa Chester Bennington, vokalis salah satu grup band papan atas dunia, Linkin Park. Pukul 9 pagi hari tanggal 20 Juli 2017, Bennington ditemukan oleh pembantunya sendiri dalam keadaan tergantung di langit-langit apartemennya, tewas mengenaskan karena gantung diri. Lalu masih ada Robin Williams, aktor kenamaan Amerika Serikat yang meninggal dalam keadaan yang amat ironis. Kontras dengan peran-perannya yang begitu lucu dan menyenangkan pada sederetan film Hollywood seperti Jumanji (1995), Mrs. Doubtfire (1993), dan Night at the Museum (2006), Williams meninggal dengan cara yang sama tragisnya dengan Bennington pada 11 Agustus 2014. Alasan kedua figur tersebut dalam melakukan bunuh diri memang berbeda. Namun apabila ditilik lebih dalam lagi, akan ditemukan satu penyebab utama yang sama: depresi. Bennington mengalami depresi terkait karir sedangkan Williams tertekan karena penyakit dementia yang berkepanjangan. Dan bunuh diri inilah memang, yang menjadi bahaya terdahsyat dari depresi. Kemudian banyak sekali pertanyaan muncul dalam benak kita sebagai pribadi-pribadi yang peduli dengan diri sendiri dan banyak diri lainnya di luar sana yang butuh pertolongan:  Apa itu depresi? Mengapa depresi bisa terjadi? Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita mengalami depresi? Bagaimana depresi berpotensi menuntun kita menuju kematian yang tragis, padahal ia begitu lekat dengan kita? Lalu satu pertanyaan yang paling penting di antara semua itu: Bagaimana kita bisa menyelamatkan orang terdekat kita dari bahaya depresi?

Masyarakat awam di Indonesia banyak mengartikan depresi sebagai suasana hati yang mengharu biru. Banyak pula yang mengidentikkan depresi dengan sekedar rasa sedih biasa. Peristiwa sehari-hari yang banyak menimpa masyarakat dan menghadirkan perasaan sedih biasa dengan mudahnya diklaim sebagai depresi. Contohnya mendapat nilai buruk di sekolah, diputus oleh pacar, kehilangan suatu barang, dan sebagainya yang seharusnya hanya menimbulkan perasaan sedih yang sesaat, secara serampangan disebut-sebut memunculkan gangguan depresi. Lubis (2009) menggarisbawahi bahwa masyarakat cenderung menggunakan istilah depresi secara bebas dan umum, sehingga makna dari depresi itu sendiri menjadi kabur. Padahal bagi seorang klinisi untuk menegakkan diagnosa depresi, perlu adanya tilikan terhadap kriteria-kritera tertentu seperti sedalam apa peristiwa pencetus yang muncul, berapa lama durasi kesedihan itu muncul, dan seberapa parah gejala yang muncul itu mempengaruhi kehidupan sosial dari penderita, yang nantinya akan lebih dalam diulas di artikel ini. Lalu apa definisi dari depresi itu sendiri menurut para ahli dan praktisi psikologi klinis? Menurut J.P Chaplin dalam Dictionary of Psychology (1981) istilah depresi mengacu pada keadaan kemurungan, kesedihan, patah semangat, yang ditandai oleh perasaan tidak pas, menurunnya kegiatan, dan pesimisme dalam menghadapi masa depan. Pada konteks yang lebih parah, depresi juga dapat diartikan sebagai ketidakmauan ekstrim untuk bereaksi terhadap perangsang, disertai menurunnya nilai-nilai, delusi ketidakpasan, tidak mampu dan putus asa. Lubis (2009) menggarisbawahi bahwa depresi merupakan sebuah istilah yang sudah begitu populer dalam masyarakat dan semua orang mengetahuinya, termasuk pula kalangan awam. Hal ini disebabkan karena depresi merupakan gangguan mental yang banyak ditemukan di tengah masyarakat dewasa ini. Hal itulah yang mendasari adanya istilah ‘kelekatan’, antara masyarakat dewasa ini dan depresi. Rathus (1991) dalam Lubis (2009) menyatakan bahwa orang yang mengalami depresi umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsional, dan gerakan tingkah laku serta kognisi, yang nantinya akan lebih jauh diulas pada artikel ini. Atkinson (1991) dalam Lubis (2009) juga mendefinisikan depresi sebagai suatu gangguan mood yang dicirikan oleh tak ada harapan dan patah hati, ketidakberdayaan yang berlebihan, tak mampu mengambil keputusan untuk memulai suatu kegiatan, tak mampu berkonsentrasi, tak punya semangat hidup, dan seringkali berakhir pada pikiran untuk bunuh diri.

Gangguan depresi termasuk di dalam gangguan mood. Mood sendiri diartikan sebagai pengalaman emosional individu yang bersifat menyebar, yang gangguannya terbagi menjadi dua kategori besar berdasarkan jumlah arah atau kutub emosional yang terlibat di dalamnya. Gangguan mood disebut unipolar apabila hanya melibatkan satu kutub, dan disebut bipolar apabila melibatkan dua kutub. Gangguan depresi termasuk di dalam gangguan mood unipolar karena hanya melibatkan satu kutub saja, yaitu kutub kesedihan (depresif) (Nevid, Rathus, Greene, 2005). Terdapat beberapa pandangan ahli terkait dengan penggolongan jenis-jenis depresi. Ada yang menggolongkan depresi berdasarkan penyebab danarah penyakitnya, dari klasifikasi nosologinya, lalu berdasarkan gejala. Namun dari semua pandangan tersebut, penggolongan depresi berdasarkan tingkat keparahannya merupakan yang paling umum dijelaskan.  Penggolongan tersebut adalah 1) gangguan depresi mayor, atau gangguan dengan bentuk dan manifestasi yang paling parah, 2) gangguan depresi sedang atau moderate, dan 3) adalah gangguan depresi minor, disebut juga dengan gangguan distimik. Praktisi-praktisi kesehatan mental mengidentifikasi setidaknya dua bentuk utamma dari jenis depresi di atas. Jenis gangguan yang pertama menurut Durand & Barlow (2006), adalah Gangguan Depresi Mayor, yang melibatkan gejala-gejala depresif yang akut, parah, dan intens namun berbatas waktu. Gejala-gejala depresif yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Perasaan tertekan.
  • Hilangnya ketertarikan atau tidak dapat menikmati semua atau sebagian besar kegiatan sehari-hari.
  • Berkurangnya berat badan secara signifikan.
  • Perubahan pada nafsu makan (dapat meningkat maupun menurun).
  • Insomnia (sulit tidur) maupun hipersomnia (tidur berlebihan).
  • Penurunan maupun peningkatan tingkat kepekaan dalam merespon suatu hal.
  • Adanya rasa letih atau hilang energi.
  • Perasaan tidak berarti pada diri atau rasa bersalah yang berlebihan.
  • Kesulitan dalam berkonsentrasi dan mengambil keputusan.
  • Adanya pikiran terus menerus ke arah bunuh diri.

Lalu apa yang dapat dilakukan untuk membantu seseorang dengan gangguan depresi? Halgin & Whitbourne (2007) menjelaskan beberapa pendekatan utama terkait hal ini. Tentang bagaimana kalangan profesional dapat menolong seseorang dengan gangguan depresi agar tidak mengalami hambatan berarti dalam hidupnya dan utamanya, tidak bermuara pada bunuh diri. Pada pendekatan psikologis, klinisi atau terapis pada umumnya menerapkan strategi-strategi intervensi yang melibatkan kombinasi antara membantu klien untuk merubah lingkungannya, mengajari klien beberapa kemampuan sosial tertentu, dan mendorong klien untuk mencari kegiatan baru di luar aktivitas sehari-harinya, yang dapat mengembalikan mood klien ke taraf yang lebih seimbang. Pemulihan dari depresi dilaporkan muncul saat klien merasa menemukan kesenangan dan menikmati suatu aktivitas baru dalam keadaan tanpa tekanan. Beberapa terapi behavioral juga dilaporkan efektif pada beberapa kasus depresi, di antaranya kasus depresi yang disebabkan oleh tujuan-tujuan tak realistis yang sulit untuk dicapai oleh klien. Pada pendekatan ini terapis memberi klien tugas-tugas rumah tertentu yang harus dilakukan, sehingga dapat meningkatkan peluang bagi klien untuk mencapai tujuan awalnya secara gradual. Hal ini juga termasuk dalam upaya memberi klien aktivitas baru yang dapat dilakukan dalam keadaan tanpa tekanan. Lalu ada pula terapi melalui pendekatan kognitif, yang biasanya melibatkan pendekatan terstruktur jangka pendek yang berfokus pada pikiran-pikiran negatif klien, termasuk di dalamnya adalah saran-saran terkait aktivitas apa saja yang dapat meningkatkan kualitas hidup klien. Teknik-teknik ini melibatkan kolaborasi aktif antara klien dan terapis dan berorientasi pada masalah terkini dan solusinya.

Selain melalui pendekatan psikologis, ternyata pendekatan sosial budaya juga terbukti efektif untuk mengurangi dampak buruk dari depresi. Karena seringkali dalam perawatan klien dengan gangguan depresi, terapis mendapati bahwa penting sekali untuk melibatkan orang-orang yang dekat dengan klien. Terapi bersama pasangan atau keluarga dapat menghadirkan suasana terapeutik (menyembuhkan) di mana pasangan atau keluarga biasanya paham betul tentang hal-hal yang dialami klien terkait gangguan depresi dan karenanya, dapat membentuk pemahaman yang amat mendalam bersama terapis terkait kondisi klien. Outcome dari hal itu adalah terapis bersama orang terdekat klien akan mampu mengembangkan intervensi-intervensi dan penanganan yang sesuai dengan kondisi klien. Hal ini dikenal dengan istilah terapi interpersonal (Halgin & Whitbourne, 2007).

Selain pendekatan interpersonal, pendekatan spiritual juga mampu menurunkan dan mengurangi dampak negatif yang mungkin dimunculkan oleh depresi. Pada pendekatan spiritual, klien akan diajak untuk mengingat kembali bahwa semua yang ada di langit dan bumi ini adalah milik Allah SWT, begitu pula dengan kehidupan kita dan semua masalah yang ada di dalamnya. Pada pendekatan ini klien diarahkan untuk menyadari bahwa Allah-lah tempat segalanya bermula dan berakhir, dan bahwa semua kekuatan berasal dari-Nya. Dengan memasrahkan diri kepada Allah SWT, semua urusan dan permasalahan akan terselesaikan.

 

Dukungan sosial terhadap orang yang sedang mengalami atau berpotensi untuk mengalami depresi juga berperan penting dalam menurunkan tingkat depresi. Hal tersebut sedikit banyak dibuktikan dengan riset yang dilakukan oleh Saputri & Indrawati, dalam jurnal penelitian “Hubungan antara Dukungan Sosial dan Depresi pada Lanjut Usia yang Tinggal di Panti Wreda Wening Wardoyo Jawa Tengah” (2011). Penelitian tersebut dilakukan atas dasar rasa prihatin peneliti atas dampak meningkatnya jumlah penduduk lansia di Indonesia, yang adalah meningkatnya jumlah lansia yang ‘dirumahkan’ di panti wreda. Perubahan lingkungan dan sosial yang terjadi dari fenomena tersebut, kemudian membuat lansia lebih rentan mengalami depresi. Padahal, terdapat kepercayaan bahwa dukungan sosial yang didapat lansia dari orang-orang terdekatnya akan banyak membantu dalam menurunkan tingkat depresi dari lansia tersebut.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu orang-orang yang rentan terkena depresi? Telah banyak indikasi yang menunjukkan bahwa dukungan sosial dan perhatian dari orang lain, utamanya mereka yang dekat, memiliki pengaruh terhadap tingkat depresi yang menimpa seseorang. Indikasi yang kemudian banyak terbuktikan kebenarannya oleh jurnal-jurnal penelitian baik di dalam maupun di luar negeri. Banyaknya jurnal penelitian yang muncul terkait depresi ini juga cukup jelas menggambarkan urgensi bagi masyarakat dunia untuk mulai memerangi depresi dan menolong mereka yang terjerat olehnya. Oleh karena itu, adalah tanggung jawab dan tugas kita bersama untuk memerangi depresi dan membebaskan diri sendiri dari hal-hal yang berpotensi untuk memunculkannya. Tindakan-tindakan sederhana seperti menanyai orang-orang terdekat tentang bagaimana kegiatan mereka hari ini, atau saling membuka diri dengan orang lain, dan bahkan tindakan sesederhana menyapa orang-orang baru yang kita temui di jalan, dapat berarti sesuatu. Itulah dukungan sosial yang banyak dimaksud oleh para peneliti. Tentang bagaimana kita berusaha melibatkan diri dalam kehidupan orang dengan cara yang baik dan membangun relasi yang baik pula. Tentang bagaimana kita mau peduli dan masuk ke dalam cerita orang lain, mengulurkan tangan untuk mau merasakan hal yang orang tersebut rasakan. Untuk menjadi dinding pertahanan terakhir bagi mereka yang sudah putus asa, membuat orang tersebut mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya. Untuk mau tahu rasanya menjadi harapan baru bagi mereka yang sudah lama kehilangan harapan dan amat merindukannya. Dukungan sosial adalah hal yang memiliki arti amat sederhana, dilakukan dengan cara yang sama sederhananya pula, namun memiliki dampak yang luar biasa.

Jadi, bagaimana kegiatanmu hari ini?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top